Cerita Empat Mahasiswa Tunarungu Mengikuti PBAK UIN Ar-Raniry
Sumberpost.com|Banda Aceh – Empat mahasiswa baru tuna rungu Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh selalu terlihat bersama selama mengikuti Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026. Teuku Sultan Syahredhy, Risky Ferdyansyah, Rifki Julian, dan Fathan Muyassar merupakan lulusan SLB-B YPAC Banda Aceh yang kini sama-sama menempuh pendidikan di Program Studi Pendidikan Teknik Informatika (PTI). Rabu (26/04/2026).
Tiga berasal dari Banda Aceh dan satu dari Takengon. Sebelum masuk kuliah, mereka mengaku belum banyak mengetahui pilihan program studi di perguruan tinggi. Atas saran Ketua Unit Layanan Disabilitas (ULD) UIN Ar-Raniry, Harri Santoso, mereka kemudian memilih jurusan Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK).
Bagi mereka, PBAK menjadi pengalaman baru. Dua di antaranya bahkan mengaku sempat hampir tidak mengikuti kegiatan tersebut.
“Awalnya aku hampir nggak ikut, tapi ternyata aman,” isyarat Risky Ferdyansyah dan Teuku Sultan yang diterjemahkan oleh Lana, salah satu Juru Bahasa Isyarat (JBI).
Kebingungan juga sempat muncul ketika mereka mengikuti berbagai kegiatan PBAK. Salah satunya saat pembagian kelompok. Keempat mahasiswa yang terbiasa bersama itu sempat ditempatkan dalam kelompok berbeda.
“Awal kan aku pisah sendiri dari kelompok mereka dan aku meminta untuk menyamakan sama mereka dan aku bingung juga,” isyarat Rifki Juliani yang diterjemahkan oleh Lana.
Mereka akhirnya kembali berada dalam satu kelompok. Selama PBAK, keempatnya pun tetap bersama dan berusaha melakukan berbagai keperluan secara mandiri.
“Selama kegiatan kami berusaha mengikuti kegiatan dengan mandiri,” isyarat Fathan Muyassar yang diterjemahkan oleh Lana.
Salah satu pengalaman yang mereka ingat terjadi ketika mengikuti kegiatan perkenalan kelompok. Saat itu, mereka memperkenalkan diri menggunakan bahasa isyarat.
“memperkenalkan diri di depan teman-teman kelompok merupakan pengalaman yang sangat berkesan,” isyarat Fathan lagi yang diterjemahkan oleh Lana.
Di tengah rangkaian PBAK, mereka juga mulai menemukan teman-teman baru. Salah seorang mahasiswa asal Takengon mengatakan dirinya menemukan beberapa mahasiswa lain dari daerah yang sama.
“Aku juga banyak nemu kawan dari Takengon juga, udah ada empat orang,” isyarat Rifki yang diterjemahkan oleh Lana.
Bagi mereka, lingkungan UIN Ar-Raniry juga menjadi hal baru. Kampus dinilai memiliki area yang luas dan banyak tempat yang bisa mereka kenali selama menjalani hari-hari pertama sebagai mahasiswa.
Setelah PBAK selesai, mereka berharap kehidupan perkuliahan dapat menjadi ruang yang nyaman bagi mahasiswa tunarungu. Mereka juga ingin mahasiswa disabilitas tetap saling terhubung meskipun jumlahnya tidak banyak. []
