Trauma: Tren atau Salah Kaprah?
Sumberpost.com | Banda Aceh – “Aku trauma.” Kalimat yang makin sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari ataupun media sosial. Ini bisa terjadi karena banyak hal, seperti ditolak orang yang kita sukai, dimarahi oleh dosen, gagal dalam presentasi, atau bahkan putus cinta. Di sisi lain, hal ini melegakan karena orang-orang menjadi lebih terbuka dalam membicarakan kesehatan mental. Tapi ada pertanyaan yang harus kita renungkan: apakah kita benar-benar memahami apa itu trauma, atau hanya mengikuti tren istilahnya saja?
Memang benar bahwa kesadaran tentang kesehatan mental di kalangan anak muda telah terjadi peningkatan. Media sosial telah berperan besar sebagai pembuka percakapan mengenai topik-topik yang sebelumnya jarang di bahas, seperti kecemasan, stres, trauma yang menjadi percakapan sehari-hari. Banyak orang yang sekarang menjadi lebih berani mencari bantuan profesional atau sekadar mulai menyadari bahwa menjaga kesehatan pikiran sama pentingnya dengan menjaga kesehatan tubuh. Sayangnya, peningkatan kesadaran ini tidak selalu dibarengi dengan pemahaman yang tepat.
Belakangan ini, kata “trauma” digunakan untuk hampir semua yang menggambarkan pengalaman tidak enak. Padahal tidak setiap rasa sedih, kecewa, malu, atau takut otomatis menjadi trauma. Dalam psikologi klinis, trauma dipahami sebagai respons setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang mengancam keselamatan, menimbulkan ketakutan yang sangat intens, atau membuat orang merasa tidak berdaya (American Psychiatric Association, 2022). Van der Kolk (2014) Menambahkan, trauma bukan hanya tentang kejadian itu sendiri, tapi juga tentang bagaimana pengalaman itu terus membentuk cara seseorang berpikir, merasa, dan merespons hidup setelah peristiwanya lewat. Jadi dampaknya jauh lebih dalam daripada sekadar rasa tidak nyaman sesaat.
Masalahnya, media sosial cenderung menyederhanakan konsep psikologi yang sebenarnya rumit. Konten yang singkat memang mudah dicerna tapi, sering kehilangan konteks pentingnya. Bukan hanya “trauma”, istilah lain seperti “gaslighting”, “narsisis”, “toxic”, atau “healing” juga mengalami nasib yang sama, digunakan secara bebas tanpa memahami makna aslinya, sehingga kehilangan bobot.
Ini bukan hanya soal pemilihan kata. Ketika semua pengalaman buruk disebut trauma, kita beresiko kehilangan pemahaman sesungguhnya tentang apa itu trauma. Orang yang benar-benar mengalami trauma bisa memiliki beban psikologis yang jauh lebih berat dibandingkan rasa kecewa atau malu yang sebenarnya normal bagi kehidupan kita. Di sisi lain, kebiasaan memberi label klinis pada setiap emosi yang kita rasakan juga bisa membuat kita lupa bahwa sedih setelah gagal, cemas sebelum ujian, atau kecewa karena harapan yang tidak terpenuhi itu merupakan hal yang wajar dan tidak selalu membutuhkan diagnosis.
Kritik ini bukan berarti kita harus menguragi perhatian pada kesehatan mental. Justru sebaliknya, kesadaran yang sudah ada harus diimbagi dengan literasi yang lebih baik. Mengetahui istilahnya penting, tapi memahami makna jauh lebih penting.
Sebagai mahasiswa psikologi, saya merasa tantangan sekarang bukan lagi tentang mengajak orang berbicara tentang kesehatan mental, tapi memastikan apa yang dibicarakan dipahami dengan benar. Di tengah banyaknya konten digital, kita perlu lebih jeli memilih informasi, memahami konteksnya, dan tidak terburu-buru menempelkan label pada diri sendiri atau orang lain.
Meningkatnya perhatian pada kesehatan mental merupakan kabar baik. Namun, jika trauma itu terus dijadikan tren tanpa pemahaman yang tepat, maka istilah trauma itu sendiri akan kehilangan maknanya, dan yang dirugikan justru mereka yang benar-benar membutuhkan kata itu untuk didengar. Kesadaran saja tidak cukup, yang kita butuhkan adalah kesadaran yang diimbagi dengan pemahaman. []
Ditulis oleh : Silvia Athasya, Mahasiswi Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry
Editor : Nurul Azkia
