Menjahit Rencana di Antara Retakan Takdir
Sumberpost.com | Banda Aceh – Tidak semua kemenangan datang dengan tepuk tangan. Ada yang lahir di ruang-ruang sunyi, ketika tubuh sedang demam, kabar duka baru saja tiba, dan kendaraan yang menjadi satu-satunya penopang mobilitas justru raib beberapa hari sebelum sidang. Di tengah retakan yang datang bertubi-tubi, tak pernah terlintas bahwa akhir dari perjalanan itu justru akan menghadiahkannya sebuah pencapaian yang bahkan tak pernah ia kejar.
Setiap angka sempurna yang terpampang di transkrip nilai sering kali dianggap sebagai garis finis yang gemilang. Namun, di balik setiap gelar yang disematkan, selalu ada cerita tentang malam-malam panjang, rencana yang dipaksa berbelok arah, dan keberanian untuk tetap berdiri saat keadaan mencoba meruntuhkan semangat. Pencapaian bukanlah sekadar hasil dari kecerdasan, melainkan buah dari ketangguhan yang dijahit perlahan di antara retakan-retakan takdir yang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Sosok itu adalah Atshalu Mauli Sabrina, mahasiswi prodi Psikologi yang baru saja menyandang gelar S.Psi. Di usianya yang menginjak 22 tahun, gadis asal Bangkinang, Riau, ini dikenal sebagai pribadi yang tenang, disiplin dan cerdas. ia membawa ketenangan dalam setiap langkahnya, namun di balik ketenangan itu, perjalanan menuju puncak prestasi bukanlah sebuah garis lurus yang mudah.
Siapa sangka, di balik jurusan yang awalnya bukan merupakan impian utama, ia justru berhasil meraih nilai yudisium tertinggi untuk Gelombang 2.
“Dulu, impian saya adalah menjadi dokter. Karena ada satu dan lain hal, saya memilih jurusan yang paling mendekati dengan dunia kesehatan, yaitu psikologi,” ungkapnya mantap sambil tersenyum tipis.
Terkait predikat tersebut, Sabrina memberikan penegasan agar tidak terjadi salah paham.
“Sebenarnya, yudisium gelombang 1 dan 2 itu digabung karena ada bencana yang menimpa Aceh pada November lalu. Jadi, yudisium dan wisudanya disatukan. Sehingga pada gelombang satu itu rekan saya dan saya mewakili gelombang 2. Jadi, predikat ini bukan berarti nilai kami setara, melainkan memang karena pembagian gelombang yang berbeda,” jelasnya.
Meski kini meraih predikat terbaik, Sabrina mengaku bahwa target awalnya hanyalah lulus tepat waktu dan meraih predikat cumlaude.
“Target saya di tiap semester itu lulus tepat waktu, dapat IPK cumlaude, lalu segera mendapat pekerjaan. Saya malah awalnya mengira nilai tertinggi itu tidak akan tercapai,” akunya sambil tersenyum hingga menampilkan gigi gingsulnya yang manis.
Maraknya fenomena stres bahkan hingga depresi di kalangan mahasiswa saat ini membuat Sabrina memberikan tanggapannya dengan tenang. Baginya, ilmu psikologi yang ia pelajari selama kurang lebih empat tahun menjadi bekal berharga untuk memahami diri sendiri.
“Kita jadi lebih mengerti apa sebenarnya mimpi kita dan tahu batas-batas yang bisa dicapai. Kalau lagi stres, saya terapkan teknik tarik napas agar lebih rileks. Sehingga kita jadi paham kapan harus berhenti jika itu bukan ranah kita,” ujarnya.
Kedisiplinan yang ia miliki pun menjadi fondasi utama ketenangannya dalam menghadapi tantangan hidup.
“Kebetulan didikan orang tua saya lumayan ketat. jadi setiap jam 10 malam ke atas itu harus tidur dan waktu malam adalah waktunya belajar,dan tidak boleh main handphone lagi. Dulu sempat merasa dikekang, tapi sekarang saya sadar itu membentuk disiplin yang terbawa sampai sekarang, bahkan saat sudah jauh dari orang tua di tempat kos, saya sudah terbiasa belajar dan tidur di jam 10,” tutur Sabrina dengan senyum tipis.
Keteguhan inilah yang diuji saat ia mengerjakan skripsi. Ia harus mencari 120 responden di tengah situasi pascabencana, ditambah musibah kehilangan motor tepat beberapa hari sebelum sidang, saat ia sedang dalam kondisi demam tinggi.
“Malam itu, PPT sidang saya belum selesai, sehingga mau tidak mau saya harus memaksa diri untuk menyelesaikannya. Pada jam 11 malam, ponsel saya sudah disetting untuk memasuki waktunya istirahat. Teman saya sempat berinisiatif ingin membantu memasukkan motor ke dalam karena melihat saya pusing sekali dan badan tidak bisa bangun. Namun, saat dia kembali ke kamar, dia bertanya, ‘Kok motornya tidak ada? Kamu pinjamkan ke orang ya?’ Saya kaget bilang tidak, lalu dari yang tadinya pusing dan tidak bisa bangun, saya langsung bisa bangkit dan bergegas ke kantor polisi dengan meminjam motor teman,” kenangnya.
Ia menambahkan detail pahit tersebut,
“Di situ kan ada 3 motor yang sama-sama tidak dikunci stang, tapi hanya motor saya yang diambil,” tambahnya
“Saya sedang berada di Tebing Tinggi karena kakek meninggal. Dan tanggal 5, dosen mengabarkan bahwa saya memperoleh nilai tertinggi pada yudisium gelombang 2 dan harus menyiapkan kesan dan pesan. Jujur, saya kaget dan bingung harus senang atau berduka. Itu perasaan yang campur aduk,” tambahnya sambil tersenyum di sela-sela menjelaskan.
Momen pengumuman yudisium pun menjadi kenangan yang tak terlupakan. Berbagai peristiwa pahit yang beriringan dengan langkahnya inilah yang membentuk peningkatan nyata kepribadian Sabrina. Ilmu psikologi yang ia pelajari selama kurang lebih empat tahun bukan sekadar teori, melainkan fondasi nyata untuk tetap tenang dalam tekanan.
Sabrina membuktikan bahwa di balik pencapaian manis, selalu ada retakan kesulitan yang ikut andil dalam membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mindful.Bagi Sabrina, gelar yang ia peroleh bukan sekadar akhir, melainkan awal.
“Gelar ini adalah awal dari tanggung jawab. Bukan gelarnya yang paling berkesan, tapi pengalaman selama kurang lebih empat tahun, bertemu orang-orang yang saling menyokong, dan momen yang tidak bisa diulang,” tuturnya.
Menutup perbincangan saat diwawancarai, Sabrina memberikan pesan kepada mahasiswa lainnya.
“Nikmati masa muda bukan berarti menghamburkan waktu, tapi manfaatkanlah. Fokus ke tujuan, mengerti batas kemampuan diri, dan berusahalah semaksimal mungkin tanpa harus memaksakan diri secara berlebihan,” tuturnya dengan senyum manis yang penuh keyakinan.
Perjalanan tersebut menjadi bukti nyata bahwa dalam kehidupan ini tidak selalu tentang memenangkan perlombaan, melainkan tentang bagaimana kita tetap berdiri saat badai datang menyapa. Seperti bunga yang mekar di antara celah retakan batu, keindahan sejati sering kali tumbuh dari luka yang telah sembuh. Dengan langkah yang lebih tenang, maka setiap jejak yang ditinggalkan bukanlah sekadar jejak kaki, melainkan tanda dari jiwa yang berhasil menaklukkan dirinya sendiri. []
Reporter: Ayulizza
Editor: Miftahul Jannah
