DEMA Se-Lingkungan UIN Ar-Raniry Soroti PBAK, Transparansi Anggaran, dan Buruknya Fasilitas Kampus

Sumberpost.com | Banda Aceh – Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) se-lingkungan UIN Ar-Raniry Banda Aceh menyampaikan pernyataan sikap terhadap sejumlah persoalan yang dinilai menjadi perhatian utama mahasiswa menjelang pelaksanaan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).

Dalam pernyataan tersebut, DEMA se-lingkungan UIN Ar-Raniry menegaskan bahwa PBAK harus dilaksanakan secara luring (offline) agar tujuan pembinaan karakter, pengenalan budaya akademik, penguatan nilai-nilai keislaman, serta adaptasi mahasiswa baru dengan lingkungan kampus dapat terlaksana secara maksimal. Menurut DEMA, PBAK bukan sekadar agenda seremonial, melainkan proses pembentukan kultur akademik yang membutuhkan interaksi langsung antara mahasiswa baru dengan sivitas akademika.

Selain itu, DEMA juga menyoroti pentingnya transparansi pengelolaan anggaran PBAK dan dana kemahasiswaan. Sebagai bagian dari sivitas akademika, mahasiswa berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai perencanaan, penggunaan, hingga pertanggungjawaban anggaran. Keterbukaan tersebut merupakan wujud akuntabilitas dan tata kelola kampus yang baik serta menjadi fondasi dalam membangun kepercayaan antara mahasiswa dan pihak universitas.

Tidak hanya itu, DEMA menilai bahwa peningkatan fasilitas kampus harus menjadi prioritas utama. Berbagai keluhan mahasiswa mengenai kondisi ruang kuliah, sarana penunjang pembelajaran, fasilitas umum, hingga infrastruktur lainnya menunjukkan bahwa masih terdapat aspek pelayanan yang perlu mendapat perhatian serius. Lingkungan belajar yang nyaman dan layak merupakan hak setiap mahasiswa sekaligus penunjang utama dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

DEMA juga menyoroti kondisi Ma’had Al-Jami’ah yang dinilai memerlukan evaluasi dan pembenahan secara menyeluruh. Berdasarkan berbagai aspirasi yang diterima dari mahasiswa, masih terdapat keluhan mengenai kondisi fasilitas yang belum memadai, pemeliharaan sarana yang perlu ditingkatkan, serta kualitas pelayanan yang belum sebanding dengan biaya yang dibebankan kepada mahasiswa. DEMA berpandangan bahwa setiap anggaran yang dipungut dari mahasiswa harus berbanding lurus dengan kualitas fasilitas, kenyamanan, kebersihan, keamanan, dan pelayanan yang diberikan. Kampus perlu memastikan bahwa Ma’had benar-benar menjadi lingkungan pembinaan akademik dan keislaman yang layak, nyaman, dan representatif.

DEMA se-lingkungan UIN Ar-Raniry menegaskan bahwa berbagai aspirasi tersebut bukanlah bentuk penolakan terhadap kebijakan kampus, melainkan bagian dari tanggung jawab moral mahasiswa untuk mengawal peningkatan kualitas pendidikan dan pelayanan. Kritik yang disampaikan diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pimpinan universitas dalam mewujudkan tata kelola kampus yang lebih transparan, profesional, dan berorientasi pada kepentingan mahasiswa.

DEMA se-lingkungan UIN Ar-Raniry berharap pimpinan universitas segera membuka ruang dialog yang terbuka dan menghasilkan langkah-langkah konkret terhadap berbagai persoalan tersebut. Kampus yang unggul tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberpihakan terhadap kebutuhan mahasiswa melalui pelayanan yang berkualitas, pengelolaan anggaran yang transparan, serta penyediaan fasilitas yang layak bagi seluruh sivitas akademika. [Rel]