Langkah Teduh Sania Farah Dhia, Wisudawan Terbaik Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry

Sumberpost.com | Banda Aceh – Gemuruh tepuk tangan riuh memenuhi Gedung Auditorium Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry pada gelombang wisuda Juni 2026 itu. Di antara ratusan toga yang berseliweran dan senyum yang merekah, sepasang mata milik Sania Farah Dhia tampak berkaca-kaca. Di atas panggung utama, namanya menggema sebagai salah satu lulusan terbaik dari Fakultas Psikologi.

Dengan balutan kebaya yang anggun dan toga yang tersampir gagah, mahasiswi angkatan 2022 asal Bireuen ini resmi menyandang predikat cumlaude dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang nyaris sempurna: 3,91.

Bagi Sania, kilatan lampu kamera dan ucapan selamat yang datang bertubi-tubi hari itu terasa seperti mimpi yang mewujud nyata. Di sudut ruangan, tatapan penuh haru dan bangga dari sang ayah, Azhari, yang sehari-hari mengabdi sebagai staf di STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe, bersama sang ibu, Ratna Sari Dewi, seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS), menjadi jangkar yang menguatkan hatinya.

Tepuk tangan hari itu bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan sebuah simfoni perayaan atas perjuangan 3 tahun 6 bulan yang penuh dengan lika liku, air mata, dan keteguhan hati.

Lahir sebagai anak kedua dari tiga bersaudara diapit oleh seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki gadis yang kini berdomisili di Tungkop, Aceh Besar ini sebenarnya tidak asing dengan tradisi berprestasi.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Sania hampir tidak pernah keluar dari posisi tiga besar. Mentalitas tangguh dan mandirinya kian terasah ketika ia memutuskan menimba ilmu di pesantren selama enam tahun sejak masa SMP hingga SMA.

“Dulu waktu kecil tertariknya ke dunia kedokteran,” kenang Sania sembari tersenyum.

Harapan itu jamak bagi anak-anak berprestasi, apalagi ada impian dari keluarga agar kelak anaknya bisa bekerja memakai baju putih. Namun, masa-masa di SMA kelas dua menjadi titik balik spiritual dan intelektual bagi dirinya. Sania mulai mengenal potensi dan batasan dirinya sendiri.

Ia menyadari jiwanya tidak tertambat pada dunia medis, melainkan pada labirin pemikiran dan perilaku manusia. Pilihan itu akhirnya jatuh pada Arsitek Jiwa: Ilmu Psikologi. Keputusan berani untuk merantau lebih jauh ke Banda Aceh itu pun direstui dan didukung penuh oleh kedua orang tuanya.

Menjadi mahasiswa baru pada tahun 2022 menuntut Sania untuk melakukan rekalibrasi total terhadap cara belajarnya. Transisi dari dunia sekolah ke bangku kuliah memaksanya untuk lebih proaktif.

“Kita sebagai mahasiswa harus beradaptasi banyak hal, mulai dari dosen di kampus. Kalau dulu zaman SMA kita yang dituntun, di dunia perkuliahan kita yang harus aktif mencari dosen,” ujarnya.

Sania tak menampik bahwa setiap fase perkuliahan memiliki monster tantangannya sendiri. Di awal-awal semester, tugas-tugas praktikum psikologi yang padat sempat menguji ketahanannya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari bahwa ketakutan terbesar sering kali hanyalah bayangan di kepala.

Menariknya, Sania mengaku tidak pernah memasang target muluk untuk menjadi lulusan terbaik atau mengejar angka IPK tertentu.

“Saya pribadi tidak punya target atau ekspektasi untuk IPK setinggi itu, seperti ‘aku pengen jadi lulusan terbaik’, enggak. Cuma, kita harus punya target pribadi per hari. Misal, aku pengen jadi yang terbaik hari ini, konsisten mengerjakan tugas secara maksimal. Itu yang selalu saya lakukan,” ungkap Sania membagikan rahasianya.

Sania bukanlah tipe mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang) yang kuper. Waktunya dihabiskan untuk aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) selama dua periode. Di semester tiga, ia memulai debutnya sebagai anggota Divisi Perencanaan Organisasi (Dipersi).

Dedikasi dan integritasnya membuat Sania diberi kepercayaan besar pada semester lima untuk memegang posisi krusial: Bendahara Umum Himpunan. Di mata teman-seangkatannya, Sania dikenal sebagai sosok yang ceria, hangat, dan sangat humble.

Ketika ditanya momen apa yang paling indah selama masa kuliah, mata Sania seketika berbinar mengingat masa semester lima. Kala itu, ia bersama lima sahabat karibnya terpilih untuk mengikuti program seleksi pertukaran pelajar ke Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Namun, karena terkendala masalah administrasi antar-kampus, program tersebut dibatalkan.

Kecewa? Tentu saja. Namun, fakultas bergerak cepat dengan mengalihkan program tersebut menjadi kolaborasi Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Internasional ke Malaysia. Selama 14 hingga 16 hari, Sania bersama total 13 mahasiswa lainnya bertolak ke Pondok Darul Furqon di Ipoh, Perak, Malaysia.

“Itu betul-betul pengalaman yang penuh kenangan. Kalau ditanya, saya mau mengulangnya berkali-kali. Kami mengabdi di pesantren daerah di sana, semuanya mandiri,” kenangnya penuh kerinduan.

Fase skripsi sering kali menjadi kuburan bagi kesehatan mental mahasiswa, namun tidak bagi lingkaran pertemanan Sania. Jika pada umumnya mahasiswa cenderung egois dan berjalan sendiri-sendiri saat menulis tugas akhir, Sania justru menemukan berkat luar biasa lewat sahabat-sahabatnya.

Dari grup yang terbentuk sejak status mereka masih Mahasiswa Baru (Maba), mereka saling memantau perkembangan bab demi bab, saling bahu-membahu, dan memecahkan masalah teoretis bersama. Dari lingkungan pertemanan dekat yang berisi 11 orang, dan lingkaran inti yang berjumlah 6 orang, solidaritas itu berbuah manis mereka semua lulus dengan predikat cumlaude dan berhasil naik ke panggung yudisium yang sama secara bersamaan.

Proses skripsi Sania sendiri terbilang impresif. Ia mendapatkan Surat Keputusan (SK) bimbingan di akhir bulan Oktober, dan draf skripsinya sudah rampung di awal bulan Desember. Mengingat ia mengonversi tugas akhirnya ke dalam bentuk jurnal ilmiah, Sania harus bersabar menunggu proses publikasi hingga akhirnya mendapatkan Letter of Acceptance (LoA) sebagai syarat sidang pada bulan April.

Ujian sesungguhnya bagi seorang
calon sarjana psikologi adalah ketika teori-teori di ruang kelas harus diuji langsung oleh realitas kehidupan. Di penghujung masa studinya pada bulan Desember, musibah banjir besar melanda Kabupaten Bireuen. Jiwa kemanusiaan Sania bergetar.

Ia memutuskan turun ke lapangan untuk melakukan aksi relawan psikososial, sekali bersama para dosen fakultas, dan sekali lagi bersama Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Wilayah Aceh.

Medan yang dihadapinya tidak mudah. Sania harus terjun ke daerah perbatasan Kuta Blang yang porak-poranda.

“Awalnya kami kira situasi sudah membaik, tapi tiba-tiba air sungai naik lagi secara drastis malam itu. Kami tidak bisa tidur, deg-degan parah melihat arus air. Besoknya, kami harus menyeberang di atas jembatan darurat dengan kondisi sungai yang mengancam. Itu sangat menegangkan,” ceritanya.

Fase itu bertepatan dengan momen krusial akademiknya. Jadwalnya luar biasa padat dan menguras emosi: hari Jumat ia mendaftar sidang, hari Sabtunya ia langsung bertolak menjadi relawan di tengah banjir, dan hari Jumat berikutnya ia sudah harus berdiri di ruang sidang mempertahankan skripsinya. Di sinilah ilmu psikologi benar-benar menyelamatkan dirinya.

“Ilmu psikologi itu sejatinya kita terapkan ke diri sendiri dulu sebelum ke orang lain. Bagaimana saya harus meregulasi emosi, mengatasi kecemasan, dan bersikap lembut pada diri sendiri agar tidak panik saat memberikan bantuan kepada warga korban banjir,” ujarnya.

Pasca-kelulusannya yang gemilang pada sidang Januari dan wisuda Juni 2026, Sania memilih untuk tidak buru-buru melangkah tanpa arah. Atas nasihat orang tuanya, gadis penyuka tantangan ini memilih untuk pulang sejenak ke kampung halaman guna merekatkan kembali kehangatan keluarga setelah bertahun-tahun merantau di pesantren dan kos-kosan.

Namun, “pulang” bagi Sania bukan berarti berhenti berproses. Di rumah, ia tengah menyusun strategi besar untuk mewujudkan cita-cita tertingginya: menjadi seorang Psikolog Klinis. Saat ini, Sania aktif menjalani magang di Dame Consultant sembari memperdalam teori-teori psikologi dan mempersiapkan diri menghadapi ujian TOEFL demi melanjutkan studi S2 Magister Profesi Psikologi.

Menutup obrolan hangat hari itu, sang lulusan terbaik menitipkan dua pesan mendalam bagi seluruh mahasiswa yang saat ini masih berjuang di lorong-lorong kampus.

“Pertama, apa pun langkah dan jalan yang kamu pilih, ingatlah bahwa ridho dan doa orang tua itu nomor satu. Tanpa itu, kita tidak ada apa-apanya. Kedua, silakan bermimpi dan punya harapan setinggi mungkin, tapi yang paling penting adalah lihat langkah dan prosesmu hari ini. Jangan mimpinya terlalu tinggi, tapi tidak melakukan apa-apa di masa sekarang. Jalani pilihanmu sebaik mungkin, karena di luar sana, banyak sekali orang yang ingin berada di posisimu sekarang namun tidak memiliki kesempatan,” pungkas Sania bijak.

Gedung auditorium perlahan mulai sepi seiring matahari yang bergeser ke barat. Satu per satu lampu ruangan dipadamkan, menyisakan jejak-jejak tumpahan confetti di lantai dan aroma sisa kebahagiaan yang tertinggal di udara. Sania Farah Dhia melangkah keluar gedung, menjinjing buket bunga dengan jemari yang masih menggenggam erat map ijazah bertuliskan IPK 3,91.

Di luar, angin Banda Aceh berembus pelan, mempermainkan ujung kain toganya. Sania menatap kedua orang tuanya yang berjalan di sisinya dengan gurat kelelahan yang kalah telak oleh binar kebahagiaan. Di titik ini, Sania sadar bahwa predikat lulusan terbaik bukanlah sebuah garis finis.

Angka-angka di atas kertas itu hanyalah simbol dari malam-malam panjang yang dihabiskan untuk memecahkan teori, hari-hari menegangkan menerjang banjir Bireuen, dan keteguhan hati mengalahkan egonya sendiri demi sebuah proses bernama pendewasaan.

Langkah kakinya kini mengarah pulang ke Bireuen. Ia melepas sejenak status perantauan yang telah disandangnya sejak usia belia di pesantren, kembali ke rumah untuk merebahkan kepala di hamparan doa orang tua yang tak pernah putus.

Namun, dari rumah yang hangat itu, sepasang mata Sania tetap menatap lurus ke depan ke arah bangku S2, ujian-ujian bahasa yang menanti, dan mimpi besarnya untuk menjadi seorang Psikolog Klinis yang menyembuhkan banyak jiwa.

Sania telah membuktikan bahwa mimpi setinggi langit tidak akan jatuh berkeping-keping jika ditopang oleh kaki yang membumi dan tangan orang tua yang terus menengadah ke langit. Dan bagi ratusan pasang mata yang menyaksikannya naik ke atas panggung hari itu, Sania bukan sekadar wisudawan terbaik, ia adalah pengingat hidup bahwa ketika kita menghargai setiap detil proses hari ini, masa depan akan menyambut kita, dengan pelukan yang paling hangat. []

Reporter: Anisaton Humaira

Editor: Miftahul Jannah