Jarak Menguji, Mimpi Menuntun : Kisah Gandis Wulandari Lulusan Terbaik FTK Gelombang 2

Sumberpost.com | Banda Aceh – Setiap mahasiswa punya cerita perjuangannya sendiri. Begitu pula Gandis Wulandari, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh, yang harus menempuh jarak jauh dari rumah ke kampus setiap harinya. Walau begitu , usahanya tak sia-sia, Ia tetap memperoleh nilai akhir yang sangat amat memuaskan yaitu 3,94. Baginya, kuliah bukan sekadar datang, duduk, dan pulang. Ada banyak hal yang harus diatur agar semuanya berjalan seimbang.

Gandis mengawali ceritanya dari satu hal yang menurutnya paling mendasar yaitu tujuan. Baginya, sebelum memulai kuliah, seseorang harus punya tujuan yang jelas. Tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan ilmu dan membanggakan orang tua. Ia meyakini, dengan selalu mengingat tujuan awal ini, ia bisa menentukan prioritas ketika ada benturan antara tugas kuliah dan kegiatan lain seperti UKM, UKK, atau himpunan. Prinsipnya sederhana, jangan sampai berat sebelah. Ia harus dapat menyeimbangkan antara perkuliahan dan kegiatan di luar perkuliahan

Namun perjalanan kuliah tak selalu mulus. Gandis mengakui ada kendala yang cukup mengganggu. Rumahnya jauh dari kampus dan ia memilih tidak ngekos. Masalah muncul ketika ada jadwal mendadak. Misalnya, mata kuliah yang tadinya kosong tiba-tiba diinformasikan masuk oleh dosen. Situasi ini menyulitkannya karena ia harus buru-buru dari Lhoknga ke Darussalam. Solusi yang ia ambil adalah tetap bertahan di sekitar kampus meskipun ada jam kosong, selama hari itu masih ada kuliah lain yang harus diikuti. Ia memilih tidak langsung pulang agar tidak bolak-balik.

“pernah waktu itu, awalnya dosennya bilang engga masuk kelas, terus tiba-tiba ada perubahan jadwal di beberapa menit kemudian” ucapnya

Lalu apa yang membuat Gandis tetap bertahan? Faktor penyemangat utamanya adalah orang tua. Menurutnya, orang tua selalu memberikan dukungan penuh. Ia sadar bahwa tidak mungkin selalu berada di posisi terbaik. Ada masa ketika nilai turun, materi tidak dipahami, atau sekadar merasa lelah. Namun di saat seperti itu, orang tuanya selalu menenangkan dengan mengatakan

“enggak apa-apa.”

Kata-kata itu menjadi penguat baginya untuk bangkit kembali.

Selain orang tua, teman-teman perkuliahan juga menjadi pendukung. Mereka sering mengerjakan tugas bersama, saling berbagi, dan bertukar pikiran ketika salah satu dari mereka ada yang tidak paham. Lingkungan yang baik, menurutnya, sangat berpengaruh terhadap semangat kuliah.

Gandis mengaku sejauh ini belum pernah mengalami masa jatuh yang sangat dalam. Ia merasa bersyukur karena memiliki lingkungan kampus yang bagus, orang tua selalu mendukung, dan teman-temannya yang ramah. Namun ia mengakui ada masa tersulit, yaitu di semester empat. Saat itu rasa lelah terasa begitu berat. Selain padatnya perkuliahan, ia juga harus tinggal di asrama dikarenakan tinggal di asrama menjadi salah satu syarat lulus saat itu, sehingga Gandis tidak dapat bertemu dengan orang tua untuk beberapa waktu lamanya. Jauh dari keluarga menjadi tantangan tersendiri yang membuatnya merasa lebih capek.

Ketika merasa down, Gandis memiliki cara tersendiri untuk mengembalikan semangat. Ia memilih untuk bercerita kepada teman-temannya. Baginya, tidak boleh memendam perasaan sendiri. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati, ia berusaha mengutarakannya setidaknya kepada satu orang, entah itu teman atau orang tua. Menurutnya, mengutarakan beban adalah langkah penting agar tidak terpuruk.

Di akhir perbincangannya, Gandis menyampaikan pesan motivasi untuk teman-teman lain. Ia mengingatkan bahwa sebelum memulai kuliah, kita harus suka terlebih dahulu dengan apa yang kita pelajari. Karena jika kita suka, rintangan seberat apa pun akan terasa lebih ringan. Sebaliknya, jika kita terpaksa belajar sesuatu yang tidak kita sukai, ke depannya akan terasa berat dan tidak menyenangkan.

“Kita harus suka dulu sama apa yang kita pelajari sekarang. Karena kalau suka, rintangan seberat apa pun terasa ringan. Kalau dipaksa, jalaninnya berat, nggak enjoy. Tapi kalau sudah suka, pasti bisa.” tutup Gandis, []

Reporter : Balqis Salsabila

Editor : Nurul Azkia