Tausiyah Zuhur UIN Ar-Raniry: Teladani Strategi Hijrah Nabi dan Ketegasan Umar bin Khattab

Sumberpost.com | Banda Aceh – Tuasiyah Zuhur yang berlangsung di Masjid Fathun Qarib UIN Ar-Raniry bertepatan dengan 2 Muharram 1448 Hijriyah, Sekretaris Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) UIN Ar-Raniry, Dr. Muhajirul Fadhli, Lc., M.A., mengajak jamaah memaknai kembali peristiwa hijrah Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai pedoman menghadapi berbagai tantangan kehidupan saat ini, Rabu (17/6/2026).

Dalam tausiyahnya, Dr. Muhajirul Fadhli menjelaskan bahwa hijrah para sahabat Nabi tidak seluruhnya dilakukan dengan cara yang sama. Salah satu sahabat yang menempuh jalan berbeda adalah Umar bin Khattab yang memilih berhijrah secara terbuka dan penuh keberanian.

Ia mengisahkan bahwa ketika hendak berhijrah ke Madinah, Umar terlebih dahulu mendatangi Ka’bah dan mengumumkan kepada kaum Quraisy bahwa dirinya akan meninggalkan Makkah untuk berhijrah. Umar bahkan menantang siapa saja yang ingin menghalanginya untuk maju dan menghadapi dirinya secara langsung.

“Barang siapa yang ingin berpisah dengan ibunya, menjadi yatim anak-anaknya, atau menjanda istrinya, maka silakan menghadangku di balik lembah ini.”

Demikian salah satu pernyataan Umar yang menunjukkan ketegasan dan keberaniannya dalam mempertahankan keyakinan.

Namun demikian, penceramah menjelaskan bahwa cara yang ditempuh Umar berbeda dengan strategi yang dijalankan Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW bersama sebagian besar sahabat memilih berhijrah secara sembunyi-sembunyi, penuh perencanaan dan strategi sesuai petunjuk Allah SWT.

Menurutnya, strategi Rasulullah SAW tersebut bertujuan menciptakan ketenangan dalam proses hijrah kaum muslimin, menghindari ketegangan, serta mencegah terjadinya pertumpahan darah baik di pihak kaum muslimin maupun kaum Quraisy.

Sementara itu, keberanian Umar menunjukkan sikap tegas dalam menghadapi ancaman dan intimidasi terhadap kaum muslimin yang hendak menjalankan perintah Allah SWT. Dalam konteks tersebut, Dr. Muhajirul Fadhli mengutip kandungan Surat Al-Anfal ayat 60 tentang konsep al-irhab, yaitu perintah untuk mempersiapkan kekuatan yang mampu menggetarkan musuh-musuh Allah sehingga mereka tidak berani mengganggu kaum muslimin.

“Jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab sesungguhnya merupakan dua strategi yang saling melengkapi. Keduanya menjadi bagian dari kesempurnaan makna hijrah yang telah memuliakan Islam dan umat Islam,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak jamaah untuk merefleksikan makna hijrah dalam kehidupan masa kini. Menurutnya, umat Islam perlu memadukan kebijaksanaan, kelembutan, dan kesantunan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW dengan ketegasan serta keberanian dalam mempertahankan akidah dan kebenaran sebagaimana dicontohkan Umar bin Khattab.

Ia menegaskan bahwa dalam menjalankan dakwah dan perjuangan Islam, umat harus mempertimbangkan kemaslahatan yang paling mungkin diwujudkan pada setiap situasi. Sikap memaksakan kehendak maupun tindakan yang merusak tidak sejalan dengan tujuan hijrah yang sesungguhnya.

“Dengan cara apa pun yang kita pilih, tujuan kita adalah menegakkan kebenaran dan menyampaikan dakwah Islam melalui strategi yang tepat, proporsional, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” pungkasnya.

Tausiyah tersebut diikuti oleh sivitas akademika UIN Ar-Raniry dan jamaah Masjid Fathun Qarib dalam suasana yang masih kental dengan semangat peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah. []

Ditulis oleh : Fiqih Mayasir, Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

Editor : Nurul Azkia