Sains di Balik Patah Hati dan Jatuh Cinta, Save Aneuk Dara Gelar Diskusi Neurosains di Koboi Cafe
Sumberpost.com | Banda Aceh — Mengupas fenomena asmara dari sudut pandang ilmiah, komunitas Save Aneuk Dara menggelar diskusi edukatif bertajuk Circle Time di Meeting Room lantai 2 Koboi Cafe, Lamnyong, Banda Aceh, Minggu (9/8/2026).
Diskusi yang mengusung tema “Jatuh Cinta Memang Manis. Tapi Kenapa? (A Neuroscience Guide to Your Brain & Urges)” tersebut berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 16.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh 29 peserta yang terdiri dari mahasiswa program sarjana (S1), mahasiswa pascasarjana (S2), hingga jajaran dosen.
Dalam forum tersebut, praktisi psikologi Fatimah Zuhra, S.Psi., MSc membedah secara komprehensif bagaimana reaksi kimiawi otak bekerja ketika seseorang merasakan ketertarikan romantis, mengalami fase kelekatan (attachment), hingga memproses rasa sakit akibat penolakan sosial (social pain).
Mengawali pemaparannya, Fatimah menjelaskan bahwa fenomena jatuh cinta dan ketertarikan sejatinya diproses oleh sirkuit otak yang berbeda. Mengutip riset pakar antropologi dan neurosains Helen Fisher serta Lucy Acevedo, ia memaparkan bahwa fase ketertarikan (attraction) memicu pelepasan hormon dopamin secara masif dari area Ventral Tegmental Area (VTA) yang memicu fokus berlebih pada objek ketertarikan.
”Jatuh cinta itu kayak narkoba, bikin orang-orang candu dan akhirnya terus-menerus mencari manisnya jatuh cinta,” kata Fatimah di hadapan para peserta saat menguraikan efek lonjakan dopamin pada sistem reward otak.
Lebih lanjut, Fatimah menguraikan perbedaan antara fase ketertarikan awal dengan fase kelekatan jangka panjang (attachment) yang dimediasi oleh hormon oksitosin dan vasopresin. Gejolak neurokimiawi inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa proses melupakan seseorang (move on) pasca pemutusan hubungan menjadi hal yang sangat berat secara biologis.
“Sebenarnya yang bikin kita susah untuk lupa akan seseorang yang kita cintai itu disebabkan oleh kerja di sistem otak kita, di mana dopamin yang didapatkan saat jatuh cinta itu menggebu-gebu dan pas putus atau asing malah menurun,” jelas Fatimah.
”Jadi otak kita kaget dan mencari-cari di mana peningkatan dopamin yang kemarin. Makanya banyak orang kadang murung, kadang nangis, dan menyendiri,” tambahnya.
Tak hanya membahas gejolak hormon bahagia, diskusi ini juga mengungkap alasan ilmiah mengapa patah hati terasa menyakitkan hingga ke fisik. Mengutip riset neurosaintis Naomi Eisenberger, Fatimah menerangkan bahwa otak memproses penolakan atau social pain di area Dorsal Anterior Cingulate Cortex (DACC) dan anterior insula—dua wilayah yang sama persis dengan pengolahan rasa sakit fisik.
Dari sudut pandang perkembangan, Fatimah menjelaskan bahwa fenomena emosi yang tidak stabil pada kelompok remaja dan Gen Z dipengaruhi oleh fase perkembangan otak, di mana area Prefrontal Cortex (PFC) yang berfungsi mengatur logika dan pengambilan keputusan belum matang sempurna dibandingkan sistem limbik yang mengontrol emosi.
Untuk menyikapi kondisi biologis tersebut, Fatimah menyarankan pentingnya regulasi emosi yang sehat, salah satunya melalui aktivitas fisik (exercise). Olahraga terbukti secara ilmiah mampu merangsang pelepasan endorfin, menstabilkan kembali sirkulasi dopamin, serta menekan produksi hormon stres (kortisol).
Menutup pemaparannya, Fatimah menyampaikan harapan agar pemahaman sains ini dapat memberikan dampak positif bagi kehidupan personal para peserta.
“Semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat, dan semoga teman-teman yang hadir di sini mendapatkan cinta yang tulus dan tepat sampai akhir hayat,” tutup Fatimah.
Sebelum masuk ke pemaparan inti, acara sendiri sempat dibuka dengan tes fokus interaktif berupa pemantik tanya jawab seputar fakta dan mitos dalam hubungan romantis untuk mencairkan suasana. Kegiatan ini juga diselingi dengan pembagian doorprize serta games interaktif bagi para peserta.
Melalui agenda Circle Time yang didukung oleh Telkomsel dan Koboi Cafe Lamnyong ini, Save Aneuk Dara berharap civitas akademika di Banda Aceh tidak hanya memandang fenomena relasi romantis secara emosional semata, tetapi juga mampu memahaminya secara rasional dan saintifik guna membangun pola hubungan yang lebih sehat. []
Editor: Miftahul Jannah
