Emotional Healing dari Drakor ‘It’s Okay to Not Be Okay’

Sumberpost.com | Banda Aceh – Peralihan segala aktivitas di luar rumah menjadi daring lantaran kekhawatiran tertular Covid-19, membuat sebagian masyarakat Indonesia mencari aktivitas alternatif untuk mengusir kejenuhan. Salah satunya adalah dengan menonton Drama Korea (Drakor). Kombinasi aktor tampan dengan alur cerita yang menarik menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi kaum Hawa untuk mengisi waktu luang selama di rumah.

Semenjak adanya imbauan untuk tetap di rumah, drakor dengan rating tertinggi menjadi populer hingga ke Indonesia. Setelah sempat hits drama The World of the Married dan juga The King Eternal Monarch, kini dunia per-drakoran kembali diguncang dengan hadirnya drakor berjudul It’s Okay to Not Be Okay. Drama Korea on going yang satu ini ditayangkan pada siaran TV Kabel Total Variety Network (tvN). Berbeda dengan dua drakor sebelumnya yang disiarkan di TV kabel Jtbc dan juga SBS TV.

It’s Okay to Not Be Okay. Sebuah drama menceritakan kisah cinta yang dapat menyembuhkan luka emosional dan psikologis satu sama lain.

Drama bergenre percintaan romantis dan juga fantasi ini telah tayang sejak 20 Juni 2020 lalu di tvN setiap Sabtu dan Minggu. Penikmat drakor di Tanah Air atau pun di luar Korea Selatan bisa menyaksikannya melalui saluran digital Netflix. Di Indonesia sendiri, sebagian penikmat drakor menonton drama ini melalui drakorindo.fun maupun melalui aplikasi Telegram.

Dalam drama yang diarahkan sutradara Park Shin Woo ini, membawa penonton mengenali karakter seorang pria yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit jiwa dengan seorang wanita penulis buku anak-anak populer yang mengalami gangguan kepribadian anti sosial.

Dalam drakor tersebut, sosok Moon Kang Tae yang diperankan Kim Soo Hyun dan Go Moon Young (Seo Ye Ji), berawal dengan pertemuan di sebuah acara yang diisi oleh perempuan cantik itu, Go Moon Young memiliki agenda membacakan dongeng di depan anak-anak, pasien di sebuah rumah sakit jiwa tempat Moon Kang Tae bekerja.

Pesan Moral

Setelah berjalan hingga sepuluh episode pada Minggu (19/7/2020) lalu, ternyata drama ‘It’s Okay to Not Be Okay’ tidak hanya sekedar menghibur, namun juga memberikan pesan moral bagi penonton.

Salah satu penikmat drama ini, Riazul Jannah, akrab disapa Ayu, yang merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi, UIN Ar-Raniry mengatakan, drama ini mengajarkan kepada kita bagaimana masa kecil seseorang dapat membentuk mental orang itu di masa yang akan datang.

“Yang aku dapat setelah nonton drama ini sampai episode sepuluh, masa kecil kita bagaimana pengalaman kecil kita yang orang tua bentuk itu mempengaruhi proses mental ketika sudah dewasa,” katanya, Selasa (21/7/2020).

Salah satu adegan emotional healing untuk memberikan ketenangan. Sumber Foto : tvndrama.official

Drama ‘It’s Okay to Not Be Okay’ menceritakan parenting yang diterapkan orang tua penulis Go Moon Young berdampak pada kejiwaannya yang anti sosial.

“Karena ketidakharmonisan keluarga mereka, makanya Go Moon Young jadi seperti itu,” ujarnya lagi.

Seo Ye Ji memerankan tokoh Go Moon Young dalam drama tersebut dengan karakternya yang galak dan juga terkesan angkuh. Namun, penonton dibuat takjub setelah episode berlanjut. Sifat galak yang ditunjukkan Go Moon Young sebenarnya adalah salah satu upaya untuk melindungi dirinya sendiri.

“Padahal aslinya gak sekuat yang orang lihat,” kata Ayu.

Jelang enam episode terakhir, drama ini mulai terlihat memecahkan masalah yang juga terjadi pada Moon Kang Tae. Kang Tae yang juga memiliki kakak penyandang autisme bernama Sang Tae yang diperankan Oh Jung Se menuntut sang ibu lebih memberi kasih sayang pada Sang Tae dari pada Kang Tae.

Sejak kecil, hal itu membuat Kang Tae merasa dibedakan sebagai anak. Karena rasa cemburunya, Kang Tae kecil berharap sang kakak mati dan hanya tinggal dirinya. Bahkan ia juga sempat meninggalkan sang kakak yang autisme ketika jatuh di sungai es.

Hingga sang ibu meninggal, Kang Tae terpaksa harus merawat kakaknya seseorang diri. Karena trauma di masa lalunya juga, ia dan Sang Tae selalu berpindah tempat setiap kali musim semi.

Perpindahan mereka lantaran ketakutan Sang Tae pada kupu-kupu yang kerap disebut Sang Tae sebagai pembunuh ibunya. Rasa bersalah di masa lalu yang juga menggerogoti jiwa Kang Tae memaksa dirinya melakukan apapun untuk sang kakak. Hingga membentuk dirinya menjadi seorang yang tertutup dan selalu menahan diri, bahkan ketika dirinya diperlakukan buruk oleh orang lain.

“Banyak hal yang kita nggak tahu dari orang. Yang terlihat baik dari luar belum tentu mentalnya juga sedang baik,” kata Ayu yang juga merupakan penulis muda.

Drama yang berlatar di rumah sakit jiwa ini juga menyadarkan bahwa sebenarnya banyak yang mengalami gangguan kejiwaan, tidak hanya orang yang berada di rumah sakit jiwa saja.

“Kan drama itu di rumah sakit jiwa, di situ sebenarnya ditunjukin, kalau banyak orang yang juga sakit mentalnya. Namun tidak mengakui bahwa mereka sakit,” lanjut Ayu.

Ilmu Psikologi

Ada tiga Ilmu Psikologi yang terangkum dalam drama ini menurut Ayu sebagai mahasiswa Psikologi. Pertama psikologi sosial, yaitu bagaimana respon orang terhadap orang-orang yang disakiti, juga bagaimana interaksi antar individu.

Yang kedua, psikologi abnormal, dimana ia mempelajari pola perilaku abnormal dan menggunakan cara tertentu untuk membantu orang yang mengalami abnormalitas.

Yang terakhir, psikologi keluarga. Psikologi yang ini sangat mendominasi dalam drama It’s Okay to Not Be Okay. Pasalnya, permasalahan mental yang terjadi pada setiap tokoh berangkat dari ikatan emosional dengan keluarga.

Setiap tokoh kemudian dipertemukan dalam satu cerita untuk saling menyembuhkan. Kang Tae membuat Go Moon Young lebih menahan diri agar tidak menjadi sarkas, dan Go Moon Young membuat Kang Tae bisa lepas dan bebas melakukan apapun tanpa harus berpura-pura dan menahan diri. Keduanya berusaha menjadi healing.

“Yang menyembuhkan mental seseorang bukan hanya dengan datang ke psikolog, terkadang yang membuat kita sembuh adalah masalah itu sendiri, dan cara kita menyelesaikannya,” kata Ayu. []

Penulis: Cut Salma H.A

Editor: Cut Della Razaqna