Membedah Ku’eh dalam Perspektif Masyarakat Aceh

Sumberpost.com | Banda Aceh – Sifat iri atau dengki dalam bahasa Aceh disebut dengan ku’eh. Menurut Ketua Majelis Adat Aceh, Badruzzaman, sifat ku’eh bukan karakter atau watak asli orang Aceh, namun sifat itu memang ada pada setiap manusia. Ia tidak setuju jika dikatakan ku’eh merupakan sifat orang Aceh.

“Ku’eh itu suatu perasaan amarah karena ketidakpuasaan seseorang dan hal ini adalah naluri manusia suatu sifat insani namun bukan watak,” kata Badruzzaman dalam Diskusi Budaya dan Membedah KU’EHNIZEM dalam Perspektif Masyarakat Aceh, Sabtu (12/11/2016) di 3 in 1 Coffee, Lampineung, Banda Aceh.

Ia berujar, ku’eh ialah suatu kiasan dalam bahasa Aceh. Namun karena banyak pemuda dan orang Aceh yang tak lagi acuh kepada bahasa daerahnya, muncul berbagai perspektif terhadap ku’eh.

“Saat ini banyak masyarakat Aceh yang tidak menggunakan bahasa ibu atau bahasa Aceh,” ujarnya. Ia menuturkan, suatu bahasa tidak mungkin bisa dipahami seseorang jika ia tidak menguasai dan memahami bahasa daerah tersebut. Menurutnya, hal itu juga tidak lepas dari pengaruh budaya barat.

Hadir dalam diskusi bahasa dan budaya Aceh tersebut dari mahsiswa dan pecinta budaya. Kegiatan itu diselenggarakan oleh Lembaga Seuramoe Budaya bekerja sama dengan Jaringan Survey Inisiatif.

Ampuh Devayan, wartawan senior Serambi Indonesia yang menjadi pembicara dalam kegiatan itu menyebutkan, sifat iri, dengki atau ku’eh yang berlebihan merupakan puncak penyakit batin. Kendatipun, sifat ku’eh terdapat pada semua manusia.

Sementara itu, Bustami Abu Bakar, Dosen Antropologi UIN Ar Raniry, mengajak mahasiswa dan masyarakat untuk mempelajari sejarah daerahnya karena bangsa yang kuat ialah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya.

“Kita tidak harus melupakan sejarah, tapi itu menjadi cerminan bagi kita untuk membuat masa depan yang lebih baik,” ujarnya. []

Hadi, Zuhri | Foto: Fadhil