Ngopi dan Sharing: Mahasiswa Ekonomi Syariah Bedah Pelemahan Rupiah dan Isu Ekonomi Terkini dalam Perspektif Ekonomi Syariah

Sumberpost.com | Banda Aceh – Divisi Akademik Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ekonomi Syariah 2026 menyelenggarakan kegiatan Ngopi dan Sharing: Membedah Melemahnya Rupiah dan Isu Ekonomi Terkini dalam Perspektif Ekonomi Syariah di Alula Coffee. Kegiatan yang diikuti oleh mahasiswa Ekonomi Syariah ini menjadi wadah diskusi untuk mengkaji berbagai isu ekonomi nasional yang tengah menjadi perhatian publik, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes), hingga berbagai kebijakan ekonomi pemerintah lainnya, pada Jumat (5/6/2026)

Kegiatan berlangsung dalam suasana santai namun tetap akademis dengan menghadirkan M. Rezi Syahrani sebagai pemantik diskusi. Para peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, pertanyaan, serta analisis terhadap berbagai fenomena ekonomi yang terjadi saat ini.

Dalam pemaparannya, Rezi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah merupakan persoalan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sehingga tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu kebijakan tertentu.

“Pelemahan rupiah tidak dapat dilihat hanya dari satu faktor. Selain kondisi ekonomi global, kepercayaan investor terhadap arah kebijakan ekonomi suatu negara juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan,” ujarnya.

Ia juga mengajak peserta untuk mengkaji berbagai program pemerintah secara objektif dan proporsional.

“Program MBG dapat dikategorikan sebagai kebijakan yang lebih bersifat konsumtif karena manfaatnya dirasakan secara langsung dalam jangka pendek. Namun, efektivitasnya tetap perlu dilihat dari tujuan yang ingin dicapai serta dampaknya terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang,” jelasnya.

Selain membahas kondisi ekonomi nasional, diskusi juga menyoroti bagaimana ekonomi syariah memandang berbagai kebijakan publik yang diterapkan pemerintah. Menurut peserta, kebijakan ekonomi idealnya tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga memperhatikan aspek keadilan, pemerataan manfaat, dan kesejahteraan masyarakat secara luas. Dalam perspektif ekonomi syariah, keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya diukur dari capaian ekonomi semata, melainkan juga dari sejauh mana kebijakan tersebut mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

Diskusi semakin menarik ketika salah satu peserta dari Divisi Akademik HMPS Ekonomi Syariah menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya memperkuat sektor produktif dalam perekonomian nasional.

“Selain kebijakan yang berorientasi pada konsumsi, pemerintah perlu terus memperluas kebijakan produktif yang mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar global. Dengan demikian, ekspor dapat meningkat dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional,” ungkapnya.

Ketua HMPS Ekonomi Syariah, Rifqi Akram, menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini merupakan bagian dari komitmen organisasi dalam membangun budaya diskusi yang sehat dan berkelanjutan di kalangan mahasiswa.

“Saya yakin bahwa organisasi bukanlah tempat untuk berlomba menunjukkan jabatan tertinggi atau menghadirkan kegiatan paling megah. Organisasi adalah wadah untuk belajar, bertumbuh, dan berproses bersama. Karena itu, kami ingin menghidupkan ruang-ruang diskusi yang sederhana namun bermakna. Melalui forum sederhana seperti ini, kami ingin mendorong mahasiswa terkhusus mahasiswa ekonomi syariah untuk lebih peka terhadap isu-isu ekonomi terkini, sehingga mampu memahami persoalan secara objektif dan memberikan gagasan yang membangun”. tuturnya

Melalui diskusi tersebut, peserta menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh berbagai faktor global maupun domestik sehingga memerlukan kajian yang komprehensif. Program-program pemerintah seperti MBG dan Kopdes juga dinilai perlu terus dievaluasi agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Selain itu, peserta menekankan pentingnya memperkuat komunikasi publik, memperluas partisipasi masyarakat dalam proses pengawasan kebijakan, serta mendorong lahirnya kebijakan yang tidak hanya bersifat konsumtif tetapi juga produktif.

Kegiatan ditutup dengan sesi refleksi dan diskusi terbuka mengenai peran mahasiswa sebagai agen intelektual dalam mengawal perkembangan ekonomi nasional. Melalui forum sederhana seperti ini, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan literasi ekonomi, memperkuat daya kritis, serta memberikan kontribusi pemikiran yang konstruktif terhadap berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi bangsa. [Rel]