Menemukan Swiss di Sudut Aceh Besar
Sumberpost.com | Banda Aceh – Gunung yang menjulang tinggi adalah value pertama yang disajikan saat memasuki Kampung Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Siapa sangka, jauh dari hiruk-pikuk pusat kota, Aceh Besar ternyata menyimpan sebuah desa wisata yang menawarkan suasana layaknya sedang berada di negara Swiss. Hamparan perbukitan hijau yang megah berdiri kokoh di bawah langit bersih seolah membawa memori kita pada lanskap pegunungan Eropa, menghadirkan ketenangan yang jarang ditemukan di kawasan perkotaan.
Namun, pesona luar negeri di dalam negeri ini tidak berhenti pada megahnya pemandangan alam semata. Berjalan lebih dalam menyusuri sudut-sudut desa yang tertata rapi, pengunjung akan langsung disambut oleh pemandangan kontras yang memikat, deretan arsitektur tradisional rumah panggung khas Aceh yang berdiri anggun di pekarangan rumah warga.
Rumah-rumah adat berbahan kayu pilihan ini bukan sekadar ornamen pelestarian sejarah, melainkan ruang hidup yang kini aktif dikembangkan menjadi homestay lewat konsep pariwisata berbasis komunitas (community-based tourism). Keunikan tata kelola inilah yang mengantarkan Desa Nusa sukses menembus jajaran Top 50 Desa Pariwisata Terbaik di Indonesia dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dari Kemenparekraf.
Melalui homestay tradisional ini, para wisatawan diajak untuk tidak hanya sekadar menikmati pemandangan alam, tetapi benar-benar melebur dengan kuas kearifan lokal aceh. Mulai dari merasakan kehangatan lantai kayu rumah adat, mencicipi kuliner tradisional, hingga berinteraksi langsung dengan keramahan penduduk setempat. Langkah inovatif ini terbukti berhasil menghidupkan kembali warisan budaya leluhur sekaligus menjadi pilar utama penggerak ekonomi mandiri bagi masyarakat desa.
Bagi masyarakat Gampong Nusa, pemandangan gunung, hamparan sawah, dan aliran sungai sebenarnya adalah pemandangan biasa yang mereka saksikan setiap hari. Namun, mereka sadar bahwa keelokan alam dan barisan rumah panggung tersebut adalah potensi besar yang jika dikelola secara mandiri, dapat menggerakkan roda ekonomi seluruh lapisan warga, mulai dari anak-anak hingga kelompok lanjut usia (lansia), baik laki-laki maupun perempuan.
Kemiripan alam di desa ini dengan alam luar negeri sering kali mendatangkan decak kagum dari para pelancong mancanegara, mulai dari wisatawan asal Malaysia hingga Afrika. Penilaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga setempat.
“Sangat mengesankan bagi kami,” ucap Ibu Nurhayati, Ketua Lembaga Pariwisata Nusa dengan nada bangga sambil tersenyum ketika menceritakan apresiasi para turis tersebut, Minggu (14/6).
“Dan kami sangat mengapresiasi ketika turis bilang Gampong Nusa ini mirip luar negeri, padahal kami sendiri tidak pernah ke luar negeri,” tambahnya.
Di sela-sela wawancara Nurhayati menjelaskan bahwa kesadaran untuk mandiri telah dipupuk sejak tahun 2006 melalui pembentukan komunitas lokal yang bergerak di bidang seni tari dan pelestarian. Hebatnya, perputaran ekonomi dan pengelolaan pariwisata di sini berjalan atas swadaya dan dukungan penuh warga sekitar tanpa bergantung pada dana desa.
“Uang bisa dicari dari luar karena kami selalu berdiskusi,” ungkapnya.
Dampak nyata dari geliat ekonomi ini pun dirasakan langsung di dapur-dapur warga. Nurlaila dan Kamisah, dua warga asli Desa Nusa, mengaku sangat senang dengan perkembangan pariwisata di desa mereka karena membuka peluang ekonomi yang menjanjikan bagi kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Guna memanjakan para pelancong, warga menyediakan paket wisata edukasi kuliner, di mana wisatawan bisa belajar langsung cara memasak ragam makanan tradisional khas Aceh.
“Kami memproduksi kuliner berupa keukarah, kembang loyang, dodol, hingga timphan. Pokoknya apa saja yang menjadi permintaan peminat, dan Alhamdulillah semuanya diminati,” tutur Nurlaila dan Kamisah, warga asli Desa Nusa, sembari merapikan adonan kulinernya.”
Tak hanya kuliner dan homestay, Desa Nusa kini juga menyediakan area perkemahan (camping ground) bagi pelancong yang ingin menyatu dengan alam bebas. Mengikuti tren pariwisata modern, masyarakat Desa Nusa pun kini telah melek digital. Seluruh penawaran tersebut kini telah dikemas dalam bentuk sistem per paket wisata yang menarik dan dipasarkan secara mandiri melalui pemanfaatan teknologi berupa media sosial resmi desa nusa wisata.
Lebih dari sekadar tempat menginap, homestay di Desa Nusa adalah media edukasi dan ruang pelestarian yang krusial. Saat menerima turis, pengelola selalu menitipkan pesan agar para tamu ikut menjaga kondisi rumah panggung yang ada. Pasalnya, keberadaan rumah adat Aceh asli kini semakin langka dan terancam punah. Banyak rumah yang telah hancur akibat bencana tsunami masa lalu, serta roboh akibat serangan rayap.
Menariknya, tidak semua rumah panggung di sini merupakan Rumah Aceh asli. Sebagian di antaranya adalah Rumah Santeut jenis rumah panggung yang strukturnya lebih rendah, di mana tingginya hanya sejajar dengan bahu atau pinggang orang dewasa, berbeda dengan Rumah Aceh asli yang fondasinya jauh lebih tinggi.
Keputusan warga terdahulu untuk membangun rumah panggung tinggi pun bukan tanpa alasan. Arsitektur ini sarat akan filosofi kebencanaan yang diwariskan oleh indatu (nenek moyang). Desain rumah sengaja dibuat tinggi agar aliran air banjir dapat mengalir bebas di bawah rumah tanpa merusak hunian. Selain itu, rumah adat ini sama sekali tidak menggunakan paku besi, melainkan memanfaatkan sistem pasak kayu (bajo). Sifat kayu yang fleksibel dan saling menguatkan ini membuat bangunan rumah panggung di Desa Nusa menjadi sangat elastis dan tidak mudah rusak atau runtuh ketika diguncang gempa bumi.
Nilai keselamatan dan kesiapsiagaan bencana ini pula yang terus diestafetkan kepada para wisatawan yang datang berkunjung.
“Ketika turis datang, kami juga memberikan edukasi terkait kalau terjadi gempa mereka harus menyelamatkan diri ke mana,” jelas Ibu Nurhayati sambil meremas santan untuk keperluan kuliner tradisional di sela-sela obrolan.”
Demi menjaga benteng budaya yang tersisa, pengelola desa wisata secara rutin mengadakan pertemuan setiap lima bulan sekali bersama ibu-ibu pemilik homestay. Agenda utamanya adalah berdiskusi dan memberikan penyadaran agar rumah-rumah panggung khas Aceh tersebut tetap dipertahankan dan tidak dibongkar. Mereka berkaca pada masa lalu, di mana sebagian masyarakat sempat tergiur tren modern dengan membongkar rumah kayu demi membangun rumah beton, yang ironisnya justru hancur total saat dihantam gelombang tsunami.
Keberlanjutan Desa Nusa kini berada di pundak generasi masa depan. Di tengah arus modernisasi, tantangan terbesar adalah memberikan pendidikan dan penyadaran bagi anak-anak muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), agar tidak menutup mata terhadap kelestarian lingkungan dan budaya di tanah kelahiran mereka. Ibu Nurhayati berharap besar agar anak-anak muda ini dapat membentengi Desa Nusa dari eksploitasi yang merusak.
“Harapan kami agar anak-anak ini melestarikan alam dan budaya. Jangan hanya alam, tapi juga budaya. Karena ketika ada orang kaya yang tidak berpihak pada lingkungan dan pelestarian, (perjuangan) jadi agak susah. Sehingga diperlukan didikan dan penyadaran untuk anak-anak muda, terutama Gen Z,” ungkapnya sambil meremas santan dan merapikan bahan kulinernya penuh harap.”
Melalui keserasian antara bentang alamnya yang berkelas internasional, kokohnya arsitektur lokal yang terjaga, serta keterlibatan aktif warganya, Gampong Nusa membuktikan bahwa pengalaman liburan berkelas dunia tidak perlu dicari jauh-jauh ke seberang lautan, ia ada di sini, tumbuh dan dihidupi oleh komunitasnya sendiri. []
Editor: Riska Amelia
