Perjalanan Sulis Maulina Wardani, Buktikan Mahasiswa PAI Mampu Meraih Gelar Internasional Sebagai Google Student Ambassador
Sumberpost.com|Banda Aceh – Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah mengubah lanskap pendidikan tinggi di seluruh dunia. Di tengah dinamika ini, sering kali muncul anggapan bahwa penguasaan teknologi mutakhir hanya mendominasi mahasiswa dari rumpun sains dan teknologi. Namun, sebuah pencapaian luar biasa dari jajaran akademika Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh berhasil mendobrak batasan tersebut. Sulis Maulina Wardani, seorang mahasiswi Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), resmi terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) perwakilan UIN Ar-Raniry untuk siklus program tahun 2026.
Pencapaian Sulis di kancah internasional ini menjadi pembuktian substantif bahwa latar belakang keilmuan keagamaan bukanlah penghalang untuk menguasai teknologi global. Lebih dari sekadar pencapaian personal, esensi dari peran Sulis sebagai duta mahasiswa diwujudkan melalui aksi nyata di lingkungan kampus, khususnya dalam memperkenalkan dan menerapkan ekosistem Google AI untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas akademik mahasiswa melalui rangkaian kegiatan offline.
Kapasitas kepemimpinan dan ketangguhan mental Sulis tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang berakar dari tanah kelahirannya di Kecamatan Kuta Baro, Kabupaten Aceh Besar. Nilai-nilai karakter, moralitas, dan keteguhan spiritualnya pertama kali ditempa secara mendalam ketika ia menempuh pendidikan sebagai santri di Dayah Darul Muta’allimin, Blang Bintang. Kehidupan di lingkungan dayah yang menuntut kemandirian dan kedisiplinan tinggi dalam membagi waktu antara kajian kitab dan aktivitas harian menjadi fondasi utama yang membentuk karakter Sulis menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah.
Memasuki jenjang sekolah menengah di MTsN Kuta Baro, potensi kepemimpinan Sulis semakin terlihat nyata melalui keterlibatannya yang aktif di ranah organisasi dan akademik. Sulis tercatat memiliki konsistensi akademik yang sangat tinggi, yang dibuktikan dengan keberhasilannya meraih predikat Peringkat pertama selama tiga tahun berturut-turut dan juga juara umum selama dua tahun berturut-turut di madrasah tersebut. Tidak hanya unggul di dalam kelas, ia juga dipercaya oleh pihak sekolah dan rekan-rekan sejawatnya untuk mengemban amanah besar sebagai Ketua Organisasi Siswa Intra Madrasah (OSIM) periode 2020–2021.
Di saat yang bersamaan, ia juga aktif menjalankan tugas sebagai Duta Pustaka MTsN Kuta Baro, sebuah peran yang mengasah literasinya serta kemampuannya dalam mengelola informasi dan menggerakkan minat baca di kalangan siswa. Kombinasi antara kapasitas akademis yang kuat dan pengalaman manajerial organisasi di usia muda inilah yang menjadi modal krusial bagi Sulis ketika melangkah ke jenjang perguruan tinggi.
Sebagai Google Student Ambassador, Sulis mengemban misi utama untuk menjembatani inovasi teknologi Google dengan kebutuhan nyata civitas akademika di kampusnya. Sulis mengamati bahwa salah satu tantangan terbesar mahasiswa UIN Ar-Raniry, khususnya dari fakultas non-teknis seperti Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, adalah adanya hambatan psikologis atau rasa minder terhadap alat-alat berbasis kecerdasan buatan atau AI. Banyak mahasiswa menganggap AI sebagai teknologi yang asing, rumit, atau hanya diperuntukkan bagi mahasiswa jurusan teknik informatika.
Untuk mematahkan persepsi tersebut dan menunjukkan dampak positif AI secara langsung, Sulis menginisiasi dan menyelenggarakan sebuah acara offline berskala besar di lingkungan kampus bertajuk “Study Smarter, Not Harder with Google AI“. Acara yang dikemas dalam bentuk lokakarya interaktif ini dirancang khusus untuk membumikan teknologi AI agar dapat diaplikasikan dengan mudah oleh mahasiswa dari seluruh latar belakang jurusan dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik mereka sehari-hari.
Sulis mengelola seluruh jalannya acara secara profesional, mulai dari penyusunan proposal formal ke tingkat kaprodi (Kepala Program Studi) untuk mendapatkan izin pemanfaatan fasilitas kampus, perancangan estetika visual materi Google AI, hingga bertindak sebagai instruktur utama di depan puluhan pasang mata mahasiswa yang hadir memadati lab PAI.
Keberhasilan acara offline yang dipelopori oleh Sulis tidak hanya diukur dari tingginya jumlah peserta yang hadir, melainkan dari dampak positif konkret yang dirasakan oleh mahasiswa pasca-kegiatan tersebut. Di dalam forum tersebut, Sulis memperkenalkan cara kerja ekosistem kecerdasan buatan Google secara taktis, salah satunya melalui pemanfaatan optimal Google AI dan berbagai fitur Google Gemini, diantaranya Notebook LM, Nano Banana, Gemini Omni dan Lyria 3, sebagai asisten virtual pribadi untuk menganalisis dokumen akademik.
Sebelum teknologi ini diperkenalkan secara masif melalui acara Sulis, mahasiswa PAI dan rumpun humaniora sering kali menghadapi kendala besar ketika harus melakukan penelaahan jurnal ilmiah (literature review) yang tebal, berbahasa asing, atau menggunakan referensi kitab-kitab digital dalam jumlah banyak. Proses membaca dan merangkum dokumen beratus-ratus halaman secara manual memakan waktu berminggu-minggu, yang sering kali menghambat penyelesaian draf proposal skripsi.
Melalui demonstrasi langsung yang dibawakan oleh Sulis, mahasiswa diajarkan cara mengunggah tumpukan dokumen referensi (seperti file PDF hasil riset, buku digital, maupun catatan kuliah) ke dalam sistem, lalu berinteraksi langsung dengan dokumen tersebut menggunakan perintah bahasa Indonesia yang natural. Mahasiswa dapat mengajukan pertanyaan spesifik mengenai isi dokumen dan menerima jawaban komprehensif lengkap dengan sitasi sumbernya hanya dalam hitungan detik. Dampak positifnya langsung terlihat mahasiswa di UIN Ar-Raniry yang menghadiri acara tersebut melaporkan bahwa proses pemetaan teori untuk pembuatan tugas mereka menjadi jauh lebih cepat, efisien, dan terstruktur tanpa kehilangan substansi ilmiah.
Dampak positif lain dirasakan langsung oleh mahasiswa PAI yang sedang mengikuti Ujian Akhir Semester. Dengan bantuan Google AI, mahasiswa dapat menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan menyederhanakan konsep-konsep keagamaan yang kompleks menjadi materi visual atau poin-poin pembahasan yang mudah dipahami. AI digunakan sebagai alat bantu diskusi untuk menemukan metode pengajaran yang interaktif dan menyusun studi kasus yang relevan dengan generasi muda. Google AI bertindak sebagai mitra berpikir (sparring partner) dalam memperluas sudut pandang riset, memberikan rekomendasi kosakata yang tepat, serta mengoreksi sistematika penulisan agar sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar.
Acara offline yang digagas Sulis telah berhasil menciptakan ruang inklusif di mana teknologi tidak lagi dipandang eksklusif. Mahasiswa yang sebelumnya awam dan takut salah dalam menggunakan teknologi kini memiliki kepercayaan diri untuk mengeksplorasi perangkat digital guna mendukung perkuliahan mereka. Dampak psikologis ini sangat penting, Sulis berhasil membangun kesadaran kolektif di UIN Ar-Raniry bahwa kecerdasan buatan adalah mitra produktivitas yang etis jika digunakan secara bijak, bukan sebuah ancaman bagi integritas akademik.
Sebagai mahasiswi PAI yang tumbuh dalam nilai-nilai luhur dayah, Sulis selalu menekankan aspek etika dalam setiap sesi pelatihannya. Bagi Sulis, penguasaan AI oleh mahasiswa PAI harus dibarengi dengan prinsip kejujuran akademik. Ia secara konsisten mengedukasi rekan-rekannya bahwa AI tidak boleh digunakan untuk melakukan plagiasi atau menghasilkan karya instan tanpa proses berpikir kritis. AI harus diposisikan sebagai alat bantu untuk mempermudah pemahaman riset, mempercepat proses administrasi belajar, dan memperluas kreativitas visual.
“Nilai-nilai PAI mengajarkan kita untuk menyampaikan kebenaran dengan cara terbaik. Di era sekarang, cara terbaik itu melibatkan pemanfaatan teknologi secara bijak dan beretika. Melalui posisi sebagai Google Student Ambassador, saya ingin memastikan rekan-rekan mahasiswa UIN Ar-Raniry mampu menguasai teknologi global ini tanpa sedikit pun kehilangan identitas spiritual dan etika akademis kita,” tegas Sulis dalam pemaparannya.
Perjalanan Sulis Maulina Wardani dari seorang santri dayah di Blang Bintang dan siswi berprestasi di MTsN Kuta Baro, hingga sukses mengemban peran internasional sebagai Google Student Ambassador di UIN Ar-Raniry, merupakan sebuah narasi perubahan yang sangat kuat. Ia telah membuktikan bahwa kompetensi di bidang teknologi tidak ditentukan oleh nama Prodi yang tertera di kartu rencana studi, melainkan oleh besarnya kemauan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Melalui inisiatif kegiatan offline yang digelarnya, dampak positif dari ekosistem Google AI kini telah dirasakan secara nyata oleh mahasiswa di UIN Ar-Raniry.
Sulis tidak hanya membawa nama baik almamaternya ke panggung teknologi tingkat internasional, tetapi ia juga membumikan teknologi tersebut untuk membawa kemaslahatan, efisiensi, dan peningkatan kualitas literasi digital di tanah kelahirannya, Aceh. Kisah perjalanan Sulis adalah inspirasi nyata bagi generasi muda bahwa dengan disiplin yang kukuh, manajemen waktu yang tepat, dan hati yang tulus untuk berbagi ilmu, siapapun mampu melampaui batas jurusan dan memberikan dampak nyata bagi dunia. [Rel]
