Membaca Laga Koalisi Politik Pragmatis dalam Pemilihan Rektor UIN Ar-Raniry
Sumberpost.com|Banda Aceh – Dalam beberapa bulan belakangan ini isu baru mula bergeming ditengah kalangan akademisi kampus dan mahasiswa yang pastinya bukan dikejutkan oleh ajang piala dunia yang selalu menguntungkan Argentina melaju ke babak final serta keluar menjadi sang juara.
Tetapi perebutan satu piagam besar yang menjadi penentu siapa yang menyusul dan siapa yang memenangkan pertarungan. Namun, jika sedikit berdempetan dengan kontestasi Final Piala Dunia antara Spanyol vs Argentina bisa jadi sang juara bertahan Argentina akan kembali memenangkan piala dunia untuk membuktikan kepada dunia, siapa raja terbaik era modern ini dan tidak terlepas juga bisa jadi yang menjadi patahan terbesar Argentina ialah Spanyol hingga bisa menaklukan sang Raja Dunia.
Sampai sekarang kita belum bisa menentukan siapa yang menang dan kalah karena asumsi-asumsi publik masih saling mengklaim tim ini dan tim itu yang akan memenangkan pertarungan, bisa jadi juga semua dugaan ini salah. Jika kita merujuk pada kontestasi piala dunia yang penuh dramatis, kebanyakan massa menyatakan kemenangan Argentina disebabkan bertambahnya dua orang ( wasit dan var ) menjadi pemain Argentina hingga mencapai tiga belas pemain padahal fakta menjawab saat melawan Inggris strategi pelatih dan spirit pemain menuju final merupakan mental juara yang belum bisa dibeli oleh siapapun.
Maka daripada itu, seketika bagan pertandingan dibuka, dari total 66 tim atau 33 besar piala dunia keluarlah empat calon kandidat terkuat di awal April 2026 dari hasil sistem gugur yang dimainkan untuk meraih juara pertama. Dimulai dari tiupan peluit pertama hingga akhir setiap tim mulai bergeriliya mengincar mangsa untuk memaksa mereka pulang lebih awal.
Perpacuan strategi pun mulai terancang dengan rapi dan terstruktur ada yang pasrah dengan keadaan, ada pula yang semakin lincah menyusup ke sela-sela lobang yang tak terlihat manusia, dan ada pula yang terus-menerus memainkan peran seakan-akan tidak ada lagi panglima lain yang bisa menyainginya, bahkan pertarungan elite politik masuk dalam ranah akademik kampus.
Hingga pada akhirnya terbitlah dua matahari yang bersinar, mereka bersaing sengit merebutkan tropi kursi rektor di Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia. Dan jika diperhatikan dengan seksama pertempuran kali ini sangat menarik perhatian publik namun yang pastinya semua keputusan ada pada satu titik yang terletak pada huruf Ba’ dalam kalimat bismillah yang menjadikannya sempurna.
Duel sengit ini semakin menarik untuk ditonton. Dari kacamata publik muncul berbagai isu yang sangat-sangat mengejutkan mata dan pikiran. Akankah pertahanan kokoh yang sudah dirampungkan dengan baik bisa dibobol dengan mudah atau tidak dan bisa saja pertahanan yang dibuat benar-benar tameng kokoh seperti benteng Zulkarnain yang menghalangi Ya’juj dan Ma’juj keluar ke muka bumi ini, kita tidak tahu itu.
Satu yang bisa dipastikan satu nama didalam “ipok“ sudah terkantongi jelas dan dibalut dengan hangat oleh sang juri penilai itu semua hanyalah dia dan Tuhan yang lebih tahu, akankah berganti ataupun tidak kita tidak peduli juga sampai di situ. Dikarenakan melihat kondisi yang sangat fleksibel kemungkinan-kemungkinan terkecil apapun bisa saja terjadi dan yang pastinya semangat juang jangan pernah kendor sedikit pun karena tidak ada yang mustahil didunia ini tentunya.
Hari ini biarkan publik menduga-duga siapa dan siapakah yang akan melanjutkan estafet tertinggi di kampus “ Jantong Hate Rakyat Aceh “. Mungkin bisa saja kembali seperti semula tanpa ada perombakan yang massif dan bisa juga adanya pergeseran besar-besaran yang menyebabkan luka amat mendalam.
Pada dasarnya untuk menyatakan “Asas Praduga“ kan tidak mengapa dan itu tentu dijamin dalam undang-undang untuk menyampaikan pendapat yang terpenting menjaga etikabilitas hingga tidak terjadinya tuduhan, fitnahan dan pencemaran nama baik kepada personal pribadi itu saja sudah cukup.
Namun yang menjadi persoalan terbesarnya ialah jangan sampai adanya mental-mental rendahan dalam setiap tim yang bertarung apapun situasi dan kondisi harus diterima dengan baik dan matang tanpa ada tekanan batin. Kita semua menginginkan permainan harus dijalankan dengan fair pastinya harus merujuk pada acuan aturan tenaga pendidik yang seyogyanya karena menjaga, merawat, dan membangun instansi itu bukanlah hal yang mudah ia harus dibangun atas dasar kebersamaan dan kekeluargaan.
Saling menghargai satu sama lain itu penting, siapapun pemimpinnya tidak masalah. Untuk itu, setiap tim harus sisipkan sedikit ruangan kosong “ ke-ikhlasan “agar tidak adanya rasa“ Susah Melihat Orang Senang & Senang melihat Orang Susah, tidak masalah siapapun yang akan melanjutkan nahkoda baru UIN Ar-raniry apakah bertahan atau berganti yang terpenting demi UIN tercinta berjalan bersama, selangkah, dan sebahu adalah yang terbaik untuk kita semua apapun kita lakukan demi kebaikan bersama.
Kita tidak ingin adanya pengkhianatan dalam satu instansi yang sama bergotong royong dan Bersatu padu merupakan pondasi pertama dalam penegakan negara Indonesia jangan sampai tujuan nenek moyang terdahulu dihancurkan demi Hasrat semata. Berbicara UIN Ar-raniry bukanlah berbicara satu keluarga dan satu daerah.
UIN Ar-raniry lebih daripada itu ia adalah milik bersama tidak ada suku, ras, adat dan budaya yang terikat pada satu acuan saja melainkan UIN Ar-raniry ialah milik bersama dari segala sisi yang ada dan setiap pelosok terdapat UIN Ar-raniry didalamnya dari Sabang sampai Meurauke bahkan luar negeri pun UIN Ar-raniry masih ada. Berdinamika didalam kontestasi itu wajar selesai dinamika mari kembali pada garis perjuangan “ mencerdaskan anak bangsa “ dan itulah sejatinya pendidik yang menjadi pedoman untuk mahasiswanya. []
Penulis : Zuhari Alvinda Haris (Ketua Senat Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Editor: Miftahul Jannah
