Jalan Pulang Anak Gila

Semua berawal saat jalan pulang yang kulalui hanyalah; ketengangan, kesepian, kesedihan, ketekanan, kemarahan, kebohongan, kemunafikan. Semua jalan pulang itu diisi pilu, jalan pulang itu tanpa rindu. Saat seorang ayah mendikte anaknya, untuk menjadi isi pikiranya. Dan saat itu, perantauan menjadi tidak menantang bagiku.

Jalan 1

Jika tuhan memberikan kesempatan hidup untuk esok, apa yang ingin kau rasakan saat terbangun dari mimipi indah atau buruk? Jika kau tanyakan aku, aku hanya ingin tidur dengan mimpi kosong dan bangun dengan mentari  memerah di bagian timur. Tentu itu akan kurasakan dari sinarnya yang menyapa jendela kamarku.

Namun, harapan itu seperti mimpi kosong yang aku inginkan. Langit sudah mendung sejak ayam berkokok. Matahari malu-malu untuk datang. Kulihat burung gereja yang tak pernah absen singgah di pohon kedodong di halaman rumahku itu menggigil ketakutan. Sedangkan aku, sedih sebab gagal menikmati tanggal merah ini.

Sesunguhnya aku sudah muak tinggal di kota ini, di rumah ini. Bagaimana seseorang bisa muak begitu saja pada tempat ia pulang? Padahal, kepulangan adalah hal yang paling indah.

Aku malas mendengar kata ayah yang setiap hari mendikte masa depanku. Aku malas, aku malas! Terlebih ayah selalu menitip beban kepadaku. “Lihat adik-adikmu itu, masih kecil, umur ayah semakin tua. Kelak kau yang akan menyekolahkan mereka,”. Itu membuat pikiran senangku yang sesaat dibawa terbang angin bersama debu-debu.  Ayah sama sekali tidak membiarkan keadaan yang menyeselesaikan semuanya.

Dan yang paling membuatku sakit hati. “Kau kelak yang akan melanjutkan perusahaan ayahmu nak. Sekolah yang rajin dibidang yang ayah inginkan ini! Kau akan kaya!”. Mungkin aku bisa saja kaya, tapi aku tidak senang, ayah!

Ayah, kenapa harus mengdiktenya sedemikian rupa. Apakah aku saja yang harus menjadi tawanan masa lalumu? Mengapa adik-adikku, mereka tidak begitu susah wajahnya saat pulang? Aku ingin sekali berlama-lama di rumah. Tapi beban itu membuatku ingin cepat-cepat keluar dari sini, mencari kesenangan.

Bukankah, aku pernah bilang bahwa aku hanya ingin menjadi seorang pecerita yang baik? Kau malah mengejeknya, “Mau makan apa anak dan istrimu nanti?”. Ah, kata-kata itu membuat ingin pergi dari kepulangan ini. Aku pernah menjawabnya, saat kudengar berulang kali kalimat itu dikatakan ayah. “Biar kujelaskan ayah, untuk menjadi kaya tidak perlu memiliki profesi yang besar tapi hanya dibutuhkan pikiran dan semangat yang besar,”.

Kertas-kertas perkulihan yang kuhadapi begitu banyak. Angka-angka itu sudah mulai memasuki otakku dan itu mungkin membuat imajinasiku berkurang. Waktuku untuk bercerita dikuras angka-angka itu.  saat ini aku mulai merasakan bebannya. Kesenangan di hidupku dimakan keinginanmu. Dan perlahan kau membunuhku, ayah!

Sekilas, memang terlihat kau menyanyangiku ketimbang adik-adikku. Setiap temanmu yang berkunjung di kepulangan ini, kau dengan bangga mengatakan, “Ini anakku yang akan meneruskan keringat-keringatku dulu,”. Konsep sayang mana yang kau anut, ayah. Bukankah, sayang itu mendengarkan tidak mengarahkan.

Ayah, kau sama saja seperti dosen yang selalu berdebat denganku di kelas. Dia selalu menyuarakan untuk cinta lingkungan.

“Kita harus ramah lingkungan nak!”. Tapi ia membiarkan kami bersahabat dengan kertas-kertas. “Buk, ini terlalu banyak menghabiskan kertas. Ada cara….,” ucap temanku saat ia hendak memberi masukan.

“Kalian taunya mengeluh saja, saya dulu gak pernah ngeluh. Baru ini saja sudah ngeluh,” marahnya.

Baru saja, ia menjadikan dirinya sebagai komandan dan kami adalah anak buahnya, yang setiap saat harus mengikuti perintahnya. Padahal, zaman sudah memberikan jalan untuk sedikit ramah lingkungan. Padahal juga,  kelas adalah ruang yang paling bebas untuk berdiskusi. Dia sama sepertimu, Ayah!, Mencintai tapi juga mengarahkan!

Jalan 2

Kau bahkan mengetuk cintamu sendiri, ayah. “Carilah jodoh yang baik nak. Yang bisa mengerti  dirimu, jangan seperti Ibu,”. Ini sudah sekian kali ayah mengatakan hal itu padaku, pada setiap kesempatan. Apa yang dikatakan ayah memang benar. Ibu memang kerjaanya marah-marah saja pada kami. Dalam kepalanya hanya uang. Jika hari libur, maka dia akan berteriak pada kami untuk bersih-bersih, sebab pekerja di rumah tidak masuk. Bukan tidak mau membantunya, tapi setiap cara mengartikan sesuatu.

Ibu bekerja dari pagi hingga sore hari. Waktunya banyak dibagikan untuk orang ketimbang anak-anaknya. Mungkin itu juga salah salah ayah terlalu memanjakan ibu. Ayah terlalu takut pada ibu. Semua yang ibu inginkan diberikanya.

Hari itu, aku berkeringat. Ayah naik pitam. Aku pulang dengan warna merah dari perkuliahan. Aku tersedut, menerima beban, kemarahan dan cacian. Andai saja, waktu, keadaan, dan keinginan ayah bersahabat padaku. Tidak pernah kukeluarkan air mata hari itu. sekarang, semua yang kulakukan hanya percuma di mata ayah.

Ayah mulai membohongi keadaanku. Setiap ada tamu yang datang dia selalu bilang jalur akademisiku baik-baik saja. Aku mulai mengerti keadaan saat-saat seperti itu berulang terjadi. Hanya bisa pasrah dan mengikuti jalanku sebagai seorang anak.

Jika kalian menanyakan bagaimana aku bahagia, semuanya adalah tawa yang disedekahkan oleh teman-temanku di setiap meja perkopian. Hidupku di perantaun hanya tangisan yang kupendam. Kata orang, Tuhan telah menciptakan banyak kebahagian. Maka keadaanku, hanya menikmati sisanya saja. Panggilan telepon dari ayah setiap saat, bagiku malapetaka. Tubuhku terkadang berkeringat, jika ditanya bagaimana belajarku. Kujawab  baik, meski buruk. Berbohong sebagai penyelamatan pertama, lalu menahan kemarahan dengan tangis pada kepulangan selanjutnya.

Andai saja aku bisa marah-marah sebelum pergi waktu itu. Keadaan tidak seperti ini. namun, aku akan dicap durhaka. Setiap kali kucari titik mana yang harus dipersalahkan, selalu saja uang yang terlintas. Lalu, bisakah aku membenci uang?

Jalan 3

Tahun berganti tahun. Banyak teman yang pergi karena memang mereka harus pergi. Dan dunia melentangkan karpet merah seperti di istana. Kucoba bercerita meski tertatih-tatih. Hanya kebahagian itu yang tersisa. Ataupun membaca buku pada setiap kesempatan.

Kebiasaan kadang membuat kita nyaman, kadang juga membuat kita bosan, atau bisa membuat kita lupa bagaimana cara bahagia. Hidupku semakin tak bergairah.  Kebahagian bisa kulihat, tapi aku dilarang mengambilnya. kepulanganku kali ini memang tidak seburuk sebelumnya. Jalan pulang terlihat rapi. Aku tidak lagi merasa gundah melihat keluar dari kaca mobil penumpang. Kali ini, keadaan di luar tubuh akan baik-baik saja. Lalu, siapa tau isi hati seorang anak yang tak pernah menang dari bahagianya?

Ayah selalu menceramahiku setiap aku pulang. tak pernah sekali pun aku pergi tanpa beban. Jika sudah pergi aku lupa rindu. Terkadang, bagiku, beban lebih indah daripada rindu. Percuma rindu bila ingatan adalah tuntutan ayah. ‘Jangan jadi anak durhaka’ selalu membuatku sakit kepala. Ingin membantah adalah jalan yang selalu aku inginkan. Air mata menjadi teman saat kesepian seperti itu datang.

Jalan 4

Jalan pulang kali ini adalah jalan menjadi anak durhaka yang bahagia. Yakni, kuputuskan untuk membantah masa depan yang ayah persiapkan. Pembelaanku pada kepulangan kali ini benar-benar membuah sebuah kemarahan. Perantaun memang mengajarkan orang untuk matang berpikir. Rumah sepi saat aku tiba, tidak seperti biasanya pada kepulanganku yang sudah-sudah.

Aku tegang. Kulihat kamar ayah kosong. Saat itu hanya ada adik keduaku di kamarnya, ia santai dengan gawainya. Selalu kubayangkan, selalu kutanyakan dalam pikiranku, kapan sebuah teriakan itu akan mengema di rumah ini? kapan aku mengkatakanya? Aku tegang. Kadang aku kesal, kepulangan macam apa ini. Seharusnya kepulangan diartikan dengan dua hal saja; senang dan sedih. Senang karena rindu dan sedih karena perpisahan.

Kejadian itu terjadi setelah semua orang di rumah selesai salat magrib. Ayah duduk di muka TV menikmati acara dangdut dan ibu sibuk dengan gawainya. Dan aku mengatakan keberanian itu, jalan menjadi durhaka.

“Ayah, sebentar lagi aku selesai kuliah. Setelah lulus nanti, aku akan menjadi pencerita saja. Dan itu membuatku senang. Mungkin aku akan menjadi pekerja yang buruk, jika bekerja yang seperti ayah inginkan”, ujarku.

“Kau pikir aku menyekolahkanmu itu pakek daun. Tidak bisa, kau harus meneruskan perusahaan ini! Di saat orang susah mencari kerjaan kau malah membuang pekerjaan. Dasar anak gila!” marah ayah padaku.

Ibu terdiam saat ayah membentak. Adik juga terdiam. Bisa kulihat dari wajahnya dia ketakutan. Aku menangis, aku malu sebagai seorang abang harus menangis di depan adik-adikku. Suram sekali keadaan waktu itu, semua orang di rumah seperti orang lain. aku merasa seperti pelayan kehidupan. Tangisku pecah saat adikku yang paling kecil menanyakan, “Abang kenapa nangis?” dengan suaranya yang masih cempreng.

Rasanya aku takut sekali dengan masa depan. Padahal masa lalu yang harus ditakutkan, bukan? Aku terduduk di muka TV itu dan ayah pergi keluar dari rumah dengan sepeda motornya. Ibu masih memainkan gawainya. Aku terkurung keadaan.

Jalan 5

Bagi ayah, mungkin pada jalan ini adalah hari paling bahagia. Aku akan segera diwisuda. Tapi aku benar-benar tidak mengingat apa-apa, yang kuingat adalah kamar yang gelap dan aku terlelap di dalamnya, tepat sejam lagi matahari terbit. Ketika terbangun, aku sudah bahagia. Aku berteriak di teras, “Aku pencerita…aku pencerita!”. Tetangga-tetangga terkejut, lalu aku termenung lama di teras, dengan celana pendek dan baju kaos. Setelah itu aku pergi jauh dan tanpa rindu sedikit pun yang kurasakan.

Sudah lama aku di sini, di dalam sebuah ruang yang sedang. Aku dan mereka berseragam biru. Semua diam, aku diam atau sekali-kali bercerita di kertas-kertas yang sudah busuk itu. Sesekali ada orang yang memakai seragam putih datang, mengajak kubicara. Mereka bertanya dan aku menjawab, “Aku pencerita…aku pencerita!”.

 ***

Bertahun-tahun, aku di sini. Aku sudah sadar. Aku ingat jalan pulang tapi aku pura-pura tidak sadar. Lebih baik aku di sini, dianggap sebagai pencerita, pencerita rumah sakit jiwa. Apakah aku anak durhaka, Ayah? Namun, aku sedang bahagia saat ini.

Aceh, 14 Maret 2019.

Adli Dzil Ikram, Mahasiswa Arsitekur UIN Ar-Raniry, penikmat sastra dan pegiat Forum Lingkar Pena (FLP) Banda Aceh. Email: adziliram04@gmail.com IG: @adzilikram