Alihkan Ketergantungan NAPZA, Mahasiswa UIN Ar-Raniry Bangun Fasilitas Olahraga Bersama Residen IPWL Kayyis Ahsana

Sumberpost.com|Banda Aceh – Dalam upaya mendukung pemulihan korban penyalahgunaan Narkotika dan Zat Adiktif (NAPZA), Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry Banda Aceh menginisiasi program intervensi berbasis olahraga di Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Yayasan Kayyis Ahsana Aceh. Mereka mengajak para residen rehabilitasi untuk menekan perilaku adiktif dengan membangun dan memanfaatkan fasilitas olahraga berupa tiang pull-up. Senin (10/08/2026).

Inisiatif ini lahir dari kolaborasi antara Mahasiswa Praktikum Mikro Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) yang terdiri dari Maksumul Fikri, Habibi, dan Rahmatal Riza, serta Mahasiswa Magang Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) yakni M. Haikal Mishry, Ulfa Mahera, dan Rahma Dea.

Gagasan pembuatan sarana olahraga ini bermula dari pemetaan sosial yang dilakukan mahasiswa. Rahmatal Riza, mahasiswa Praktikum PMI, menjelaskan

“Setelah kami melakukan observasi selama 10 hari, kami menemukan beberapa aset tak berwujud (intangible asset) di sini, salah satunya yaitu minat dan hobi mayoritas residen terhadap aktivitas fisik. Intervensi terhadap perilaku negatif akibat adiksi ini sangat bisa ditekan melalui rutinitas olahraga,” ujarnya.

Proses pengerjaan tiang pull-up tersebut tidak hanya dilakukan oleh para mahasiswa, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif para residen secara bergotong royong. Menyoroti aspek pemberdayaan ini, Maksumul Fikri (PMI) menuturkan

“Kami sengaja mengajak residen untuk ikut membangun fasilitas ini bersama-sama. Tujuannya agar tumbuh rasa memiliki (sense of belonging), sehingga ke depannya mereka akan lebih merawat dan aktif menggunakan fasilitas ini,” ujarnya

Senada dengan hal tersebut, Habibi (PMI) menambahkan alasan pemilihan alat olahraga tersebut.

“Tiang pull-up ini dipilih karena praktis, tidak memakan banyak tempat, namun sangat efektif untuk menyalurkan energi fisik para residen ke arah yang positif dan produktif,” ujarnya.

Dari kacamata psikologis dan konseling, program ini dinilai sebagai langkah yang tepat untuk manajemen adiksi. M. Haikal Mishry, mahasiswa Magang BKI, menjelaskan mekanisme pemulihannya.

“Aktivitas fisik yang intens memicu produksi hormon endorfin di dalam otak. Secara alami, hal ini sangat membantu mengurangi rasa cemas dan menekan craving atau sugesti residen terhadap zat adiktif,” jelasnya.

Ulfa Mahera (BKI) turut menyoroti dampak emosional dari kegiatan ini. “Di masa pemulihan, fluktuasi emosi sangat rentan terjadi. Olahraga menjadi medium katarsis yang sehat. Residen bisa melepaskan stres mereka ke aktivitas fisik yang menguras keringat, bukan kembali pada kebiasaan lama,” ungkap Ulfa.

Lebih jauh, Rahma Dea (BKI) melihat adanya perbaikan dinamika sosial di antara para residen.

“Saat tiang pull-up ini mulai digunakan, kami melihat munculnya interaksi sosial yang hangat. Mereka saling mendukung dan menyemangati satu sama lain saat berolahraga, dan ini adalah modal sosial yang sangat baik untuk fase pemulihan mereka,” tuturnya.

Program yang diusung oleh mahasiswa FDK UIN Ar-Raniry ini disambut dengan sangat antusias oleh pihak yayasan. Pimpinan IPWL Yayasan Kayyis Ahsana Aceh, M. Nasir, M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap pendekatan langsung yang dilakukan oleh mahasiswa.

Melalui sinergi antara pendekatan pemberdayaan masyarakat dan bimbingan konseling ini, diharapkan fasilitas olahraga sederhana tersebut dapat menjadi rutinitas harian yang berkelanjutan, serta membantu para residen menemukan kembali pola hidup sehat pasca-rehabilitasi. [Rel]