Langkah Pelan, Mimpi Besar Perjuangan Nora
Sumberpost.com | Banda Aceh – Pagi itu, Nora melangkah pelan menuju kampus. Di tangannya hanya ada beberapa buku, tapi di kepalanya ada banyak hal yang terus berputar ongkos hari ini cukup atau tidak, kebutuhan kuliah yang belum terpenuhi, dan satu hal yang selalu ia jaga, jangan sampai menjadi beban bagi ibunya.
Di balik langkah sederhananya, Nora adalah mahasiswi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) di Fakultas Dakwah dan Komunikasi yang sedang berjuang mempertahankan mimpinya.Ia berasal dari keluarga sederhana. Ibunya adalah seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan tetap. Dalam keseharian, mereka harus benar-benar mengatur pengeluaran agar cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
“Untuk kebutuhan sehari-hari saja kami harus pintar-pintar mengatur, apalagi untuk biaya kuliah,” ujarnya.
Meski hidup dalam keterbatasan, Nora tidak pernah berpikir untuk berhenti. Justru dari kondisi itulah ia menemukan alasan untuk terus melangkah.Ia memilih jurusan KPI karena ingin belajar berbicara di depan umum. Baginya, kemampuan menyampaikan pesan itu penting, apalagi jika bisa digunakan untuk hal-hal yang baik.
“Saya ingin belajar public speaking, supaya bisa menyampaikan pesan yang baik dan bernilai,” ungkapnya.
Namun, perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan biaya buku, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari. Di sisi lain, ia juga berusaha menahan diri agar tidak menambah beban ibunya.
“Kadang saya merasa berat karena tidak ingin membebani ibu, tapi di sisi lain saya juga harus tetap kuliah,” sambungnya.
Bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) menjadi salah satu penopang bagi Nora. Setidaknya, ia bisa sedikit lebih tenang menjalani perkuliahan tanpa harus terus-menerus memikirkan biaya.
“Bagi saya, KIP bukan sekadar bantuan biaya, tapi juga kepercayaan yang harus saya jaga,” jelasnya.
Meski begitu, rasa lelah tetap sering datang. Ada momen-momen di mana Nora merasa capek dan sedih, terutama ketika melihat orang lain yang bisa menjalani kuliah tanpa beban yang sama.
“Kadang saya merasa capek dan sedih, tapi saya selalu ingat perjuangan ibu. Dari situ saya sadar saya tidak boleh menyerah,” ujarnya pelan.
Nora memilih untuk tetap fokus pada dirinya sendiri. Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
“Saya tidak pernah iri, karena saya percaya setiap orang punya jalannya sendiri,” tambahnya.
Kekuatan terbesar Nora datang dari keluarganya. Ibu, kakak, dan abangnya selalu memberikan dukungan, meskipun dalam kondisi terbatas. Dukungan itulah yang membuatnya terus bertahan sampai sekarang.
“Melihat mereka berjuang, saya merasa tidak punya alasan untuk berhenti,” ujarnya.
Bagi Nora, kuliah bukan sekadar soal gelar. Lebih dari itu, ini adalah jalan untuk mengubah keadaan. Ia ingin suatu hari bisa berdiri dengan mandiri dan membalas semua pengorbanan keluarganya.
“Saya ingin suatu hari bisa membalas semua pengorbanan keluarga,” tuturnya.
Di tengah segala keterbatasan, Nora tetap berjalan. Mungkin pelan, mungkin tidak mudah, tapi ia tidak berhenti.
“Jangan pernah berhenti karena keadaan sulit. Yakin saja, usaha kita tidak akan sia-sia,” pungkas. []
Ditulis oleh: Siti bararah
Editor: Miftahul Jannah
