Dari Gagal KIP ke BIB, Eva Buktikan Jalan Lain Selalu Ada
Sumberpost.com | Banda Aceh – Keinginan untuk kuliah sering kali dihadapkan pada persoalan biaya. Namun bagi Eva keterbatasan bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjuangan panjang yang akhirnya berbuah manis.
Eva merupakan mahasiswi Prodi Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry. Ia menjelaskan bahwa dirinya sempat berencana mendaftar Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah sejak awal masuk perguruan tinggi. Namun, keadaan berkata lain. Dalam satu kartu keluarga, hanya satu orang yang bisa didaftarkan, dan kakaknya lebih diprioritaskan karena sempat gap year.
“Awalnya saya mau daftar KIP, tapi karena satu KK tidak boleh dua orang, jadi kakak saya yang diprioritaskan,” ujarnya.
Situasi tersebut tidak membuatnya menyerah. Eva tetap bersikeras mencari peluang lain agar bisa melanjutkan pendidikan. Kesempatan itu datang ketika memasuki minggu kedua perkuliahan. Ia menemukan informasi tentang Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dan langsung mencoba daftar. Ia mengikuti seluruh tahapan seleksi. Usahanya terbayar ketika ia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa.
“Karena saya bersisi keras untuk tetap ingin kuliah walaupun tidak bisa KIP pasti ada cara yang lain, terus abang saya menginfokan tentang beasiswa ini, waktu kuliah minggu kedua dibuka pendaftaran beasiswa BIB ini, terus saya lengkapi persyaratan, ikut administrasi, ujian, wawancara, dan alhamdulillah lulus. Alhamdulillah rencana Allah ternyata lebih indah daripada yang diminta,”ujarnya.
Beasiswa Indonesia Bangkit merupakan program kolaborasi antara Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan.
“Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) itu diselenggarakan oleh Kementrian Agama (Kemenag), kemenag berkolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Kementerian Keuangan (LPDP Kemenkeu), jadi keluarlah program Beasiswa Indonesia Bangkit hasil kolaborasi dari kementerian keuangan bagian LPDP-nya sama Kementerian Agama,” ujarnya.
Eva menjelaskan bahwa beasiswa Beasiswa ini dibiayai penuh selama 4 tahun mencakup dua komponen utama, yaitu dana pendidikan dan dana pendukung.
“Beasiswa ini dibiayai penuh selama 4 tahun dengan 2 komponen, ada yang namanya dana pendidikan dan dana pendukung, dana pendidikan ini menanggung dari UKT, uang pendaftaran, uang buku, uang penelitian dan kalau dana pendukung ini kayak biaya hidup atau uang saku, asuransi kesehatan dan dana darurat,” ujarnya.
Tak hanya itu, beasiswa ini terbuka untuk berbagai kalangan, termasuk anak dari keluarga pegawai negeri sipil (PNS).
“Beasiswa Indonesia Bangkit ini semua boleh daftar walaupun anak PNS,” ujarnya.
Dalam proses seleksi, salah satu syarat penting adalah penulisan esai. Eva menekankan bahwa esai menjadi ruang untuk menceritakan diri kita, perjalanan pendidikan, dan apa yang sudah kita lakukan. Esai adalah salah satu syarat yang wajib di upload dalam pemberkasan, nah esai itu seperti motivasi kita daftar beasiswa, semacam latar belakang kita dan pendidikan kita, terus jelasin kenapa kita layak dapat beasiswa ini, terus ceritakan jejak perjalanan kita selama di Madrasah Aliyah misal pernah ikut organisasi dan lomba apa saja.” Ujarnya.
Kini, setelah merasakan manfaat beasiswa, Eva juga aktif berbagi informasi kepada mahasiswa baru agar mereka memiliki kesempatan yang sama.
“Kami mencoba share ke mahasiswa baru supaya mereka juga bisa mendapat manfaat dari beasiswa ini,” ujarnya.
Di akhir cerita, Eva memberikan pesan sederhana namun kuat jangan mudah menyerah. Ia menekankan pentingnya usaha, persiapan, dan keyakinan pada diri sendiri.
“Jangan putus asa, terus berusaha, belajar dengan giat, latihan wawancara, yakin sama potensi diri sendiri dan jangan lupa berdoa,” tutupnya.
Kisah Eva menjadi bukti bahwa jalan menuju pendidikan tidak selalu mulus, tetapi selalu ada peluang bagi mereka yang mau berusaha dan tidak menyerah. []
Reporter: Kurnia Zahra
Editor: Miftahul Jannah
