Sosok Ummu Aiman salah satu mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mengikuti program pertukaran pelajar bersama Woosong University, Korea Selatan. (dok/Annisaton Humaira)

Dari Kelas Daring ke Mimpi Korea Selatan: Perjalanan Ummu Aiman Menembus Program Internasional

Sumberpost.com | Banda Aceh – Sebagai mahasiswi semester enam Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah, Ummu Aiman menjalani pengalaman berharga yang membawanya terhubung dengan dunia internasional. Ia menjadi salah satu mahasiswa UIN Ar-Raniry yang mengikuti program pertukaran pelajar bersama Woosong University, Korea Selatan.

Perjalanan itu dimulai saat dirinya masih berada di semester lima dan di jalankan secara daring selama satu semester. Meski program tersebut belum dilaksanakan secara langsung di Korea Selatan, kesempatan belajar bersama kampus luar negeri tetap menjadi pengalaman berharga baginya. Selama itu perkuliahan di kampus tetap harus berjalan seperti biasa karena sistem pembelajaran dilakukan secara remote class.

“Kuliah kami di sini tetap harus terlaksanakan,” ujarnya.

Ia bersama empat mahasiswa lainnya mengikuti program iDegree dari Woosong University. Kelima mahasiswa itu mendapat rekomendasi langsung dari dosen mereka, Saiful Akmal, melalui International Office UIN Ar-Raniry.

Menurutnya, hubungan kerja sama tersebut merupakan undangan langsung dari Woosong University kepada UIN Ar-Raniry. Pihak kampus di Korea Selatan meminta nama mahasiswa yang dinilai layak untuk mengikuti program tersebut, lalu nama mereka diajukan oleh pihak kampus.

Selama satu semester, Ummu Aiman dan peserta lainnya mengikuti pembelajaran layaknya mahasiswa biasa. Mereka berkomunikasi langsung dengan profesor dari Woosong University melalui Zoom Meeting, mengerjakan tugas, serta menggunakan situs resmi kampus sebagai media belajar.

Kesempatan itu tidak datang begitu saja. Sebelum mendapat rekomendasi, Ummu Aiman aktif menjadi volunteer di International Office UIN Ar-Raniry. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan kampus, terutama urusan mahasiswa asing, program internasional, hingga hubungan dengan alumni di luar negeri.

“Atas kontribusi kami berada di International Office untuk membantu kampus, mungkin itu yang dilihat profesor kami,” katanya.

Tidak berhenti di program akademik, Ummu Aiman dan teman-temannya juga mengikuti kompetisi video esai yang diadakan Woosong University bekerja sama dengan GREK. Kompetisi itu bersifat individual, namun seluruh peserta saling mendukung selama proses persiapan.

Dari lima peserta, hanya empat orang yang berhasil mengirimkan karya karena satu peserta mengalami kendala teknis saat batas akhir pengumpulan.

Bagi Ummu Aiman, tantangan terbesar datang saat menyusun ide video esai. Dengan waktu hanya dua minggu, ia harus mencari gagasan yang menarik, original, dan relevan dengan tema masyarakat yang dipilihnya.

Ia sempat merasa bingung menentukan sudut pandang yang bisa dibawa sebagai perempuan Aceh ke forum internasional.

“Kadang saya mikir, apa sih yang bisa saya sebagai wanita Aceh sangkut pautkan dengan tema yang saya pilih,” ungkapnya.

Dari kebingungan itu, ia mulai mencari topik yang dekat dengan kehidupan dirinya dan memiliki nilai yang belum banyak dibahas di tingkat internasional. Proses pencarian ide tersebut menjadi bagian paling menantang selama lomba berlangsung.

Dalam seluruh proses itu, Ummu Aiman mengaku banyak mendapat dukungan dari dosen pembimbing dan teman-teman seperjuangannya. Mereka saling membantu, berdiskusi menentukan topik, hingga mendampingi saat pengambilan video.

“Bapak Saiful selalu memotivasi kami, jangan menyerah, tetap semangat, jangan berhenti walaupun sulit,” katanya.

Kini, peluang untuk berangkat langsung ke Korea Selatan masih terus diupayakan. Meski belum ada kepastian, Ummu Aiman berharap seluruh peserta dapat merasakan pengalaman belajar secara langsung di negeri tersebut.

Baginya, mimpi menembus dunia internasional bukan hal yang mustahil bagi siapa pun. Selama ada usaha dan kemauan belajar, kesempatan akan selalu terbuka.

“Kalau benar-benar ingin, asal ada usaha pasti bisa,” tuturnya.

Ia juga mengajak mahasiswa lain untuk mulai mencari lingkungan dan komunitas yang mampu mendorong semangat berkembang, agar semakin banyak anak muda berani membuka mata dan melihat dunia. []

Reporter : Annisaton Humaira

Editor : Nurul Azkia