Mengungkap Masa Prasejarah Indonesia: Dari Neolitikum hingga Megalitikum

Sumberpost.com | Banda Aceh – Masa prasejarah Indonesia tidak hanya dilihat dari masa penjajahan antara Indonesia dan negara Barat, tetapi justru dilihat dari pembagian zaman seperti Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, dan Megalitikum. Zaman Neolitikum sering disebut sebagai zaman batu muda, yaitu masa ketika manusia sudah mulai mengenal cara hidup menetap dan mampu menghasilkan makanan sendiri atau disebut dengan food producing, seperti menanam dan beternak.

Sebelum memasuki zaman Neolitikum, manusia berada pada masa Paleolitikum. Pada masa itu, manusia belum mengetahui cara menanam dan beternak. Mereka hanya bergantung pada alam dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan. Selain itu, alat-alat yang digunakan juga masih sangat sederhana dan kasar, sehingga belum seefektif alat-alat yang digunakan pada masa Neolitikum.

Zaman Neolitikum berlangsung sekitar 10.000 hingga 2.000 sebelum masehi. Pada masa ini, manusia mulai mengalami perubahan besar dalam pola pikir. Jika sebelumnya mereka sepenuhnya bergantung pada alam dan hidup berpindah pindah untuk mencari makanan, kini mereka mulai menetap. Mereka mulai membangun tempat tinggal yang sederhana dan tidak lagi harus berpindah tempat karena sudah memiliki sumber makanan tetap.

Perubahan ini juga terlihat pada perkembangan alat yang digunakan. Jika pada masa sebelumnya alat masih kasar, pada masa Neolitikum manusia sudah mampu membuat dan mengasah batu menjadi lebih halus dan tajam. Contohnya seperti kapak, beliung, dan pisau yang digunakan untuk berburu, memotong, dan membantu kegiatan bercocok tanam.

Selain itu, perubahan pola hidup ini juga memengaruhi struktur sosial masyarakat. Karena manusia mulai hidup bersama dalam satu wilayah, mereka mulai mengenal pembagian kerja. Ada yang bertugas bercocok tanam, membuat alat, dan melakukan pekerjaan lainnya. Dari sini mulai muncul pemimpin kelompok serta aturan-aturan sederhana yang digunakan untuk mengatur kehidupan bersama.

Dari buku yang saya baca berjudul IPS (Geografis, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi) ada 3 perubahan pemikiran pada zaman neolitikum:

  1. Teknologi
    Jadi Pada zaman batu muda (Neolitikum), manusia sudah mulai menghasilkan makanan sendiri atau disebut food producing. Menurut R. Soekmono, perubahan dari mencari makanan ke menghasilkan makanan ini dianggap sebagai revolusi besar dalam kehidupan manusia prasejarah. Alat-alat batu yang dipakai juga sudah lebih maju karena batu mulai diasah hingga menjadi kapak persegi dan kapak lonjong. Kemampuan mengasah batu ini menunjukkan bahwa cara berpikir manusia mulai berkembang dan mereka mulai membuat alat yang lebih praktis untuk kehidupan sehari hari.
  2. Kehidupan Sosial
    Manusia pada masa ini sudah hidup menetap, bercocok tanam, beternak, dan mulai membentuk kehidupan masyarakat sederhana. Mereka juga sudah mengenal barter atau tukar-menukar barang. Selain itu, mereka mampu membuat rumah tetap, kerajinan, tembikar, dan aturan hidup bersama seperti pembagian kerja. Dari tembikar yang ditemukan, diketahui bahwa mereka sudah bisa menenun pakaian, jadi cara berpakaian mereka sudah lebih maju dibanding sebelumnya.
  3. Manusia Pendukung
    Pendukung kebudayaan Neolitikum adalah bangsa Proto Melayu yang hidup sekitar 2000 SM. Keturunannya sekarang diperkirakan terlihat pada suku Sasak, Toraja, Dayak, dan Nias. Peninggalan zaman Neolitikum ditemukan di banyak wilayah seperti Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, sampai ke Malaysia, Filipina, Jepang, India, dan Tiongkok.

Dari pembahasan prasejarah ini dapat disimpulkan bahwa kehidupan manusia pada zaman Neolitikum sudah mengalami perkembangan yang cukup maju, mulai dari cara bertahan hidup, teknologi, hingga kehidupan sosial. Perubahan ini menjadi dasar berkembangnya peradaban manusia sampai sekarang. Dengan mempelajari kehidupan masa prasejarah, kita dapat memahami bahwa perkembangan manusia terjadi melalui proses panjang dan kerja keras, sehingga kita harus lebih menghargai sejarah dan memanfaatkan perkembangan dan peninggalan zaman dengan baik. []

    Ditulis oleh : Siti Zahara, Prodi Sejarah kebudayaan islam, Fakultas Adab dan Humaniora