Curhatku Tentang Nadhira

Oleh Fahrul Razi

Wajahnya selalu ceria ketika setiap aku berjumpa denganya, dia adalah sosok gadis yang sangat tegar menghadapi segala masalah yang membelenggu dalam hidupnya. Nadhira, itulah nama gadis tersebut setiap  kala mendengar suaranya aku merasa senang, Seakan dia begitu dekat denganku, padahal terkadang jarak kami berpal-pal jauhnya, seperti saat ia berkemah di Sabang dulu, Aku sampai di rundung rindu yang tak menentu karena tidak bisa melihat gadis itu dalam kurun waktu 4 hari. Gadis yang kuliah di IAIN tepat nya di jurusan ASK Fakultas Adab. Untuk ukuran wajah, sebenarnya Ia tidak bisa di bilang manis namun tetap saja bisa di lirik karena sikapnya yang ceria mungkin membuat orang betah dengannya.

  Hari itu si gadis manis, duduk di sampingku dan menghabiskan waktu bersama, waktu berjalan begitu cepat saat kami bersama.

“Salah tidak misalnya, Rul punya perasaan sama Nadhira?,”

“Tidak… namun, bila mengajak Nadhira pacaran seperti lagunya Syaffan, itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup Rul, karena Nadhira akan pergi jauh sekali dengan Rul, tidak akan menemui Rul lagi,”.

            Waktu itu Aku terdiam, memang beberapa bulan ini Aku merasa mempunyai perasaan lebih padanya, lebih dari teman dari sekedar sahabat bahkan dari sekedar menjadikannya pacar. Ah iya, Lagu Syaffan itu adalah lagu lama yang judulnya mengajakmu pacaran, hehehe. Lucu ya judulnya. Tapi Nadhira itu istimewa, tidak pantas sekedar di jadikan pacar.

Nadhira, Ia tinggal di asrama sekolah yang sangat terkenal di kota Banda Aceh. Karena intelektualnya dia jadi pembimbing murid-murid di sekolah tersebut, maklum orang cerdas. Di kampus, gadis manis itu juga merupakan seorang public figure karena aktif dalam berbagai organisasi dan kegiatan, dia juga pernah memenangi berbagai juara dari lomba baca puisi sampai juara menulis cerpen. Ke kampus,  Nadhira pergi menggunakan  sepeda, seakan akan tidak tampak ia seorang yang cerdas, begitu sederhana dan jarang sekali ada wanita yang begitu. Biasaya sih mereka pada gengsi gitu soal segala sesuatu yang berhubungan dengan gaya namun ini tidak dengan Nadhira dan sosoknya selalu tampil dengan bangga ketika sampai kekampus menggunakan sepeda dan  di kelas tidak pernah absen berbicara di depan forum, saat Ia mengemukan pendapat semua mata tertuju padanya dan mendengar dengan seksama pembicaraannya dan mereka dengan spontan betepuk tangan memberikan tepuk tangan memuji kehebatannya.  Nadhira, seorang gadis manis yang di lahirkan di Blang Pidie, 9 juni 1994.

Rasanya sangat senang bisa bekenalan dan menjadi sahabatnya. Aku ingin belajar dan berguru padanya sama seperti Aku, dia juga merupakan pecinta sejarah, dia mahasiswi yang tak kenal lelah untuk mempelajari sejarah dan menulisnya agar semua sejarah yang telah diputarbalikkan untuk kepentingan kelompok tertentu bisa terungkap sebagaimana mestinya.

“Kamu tau Rul, banyak sekali orang yang akan memutarkan fakta sejarah bila tidak di analisis dengan bagus. Kamu tau kan sejarah pada masa sukarno, PKI, surat supersemar, sampai orde baru yang di putar balikkaan fakta nya demi kekuasaan ? Bahkan sekarang terungkap lagi tentang sejarah GAM yang di pimpin oleh petinggi-petinggi GAM lain di Swedia selain Malik Mahmud, mereka menganggap MoU Helsinki adalah perdamaian antara NKRI dan GAM. Mereka membeberkan fakta sejara berdirinya GAM, apakah kita akan tahu, jika hal  ini tidak ada yang menulisnya?,”

 Aku diam, mendengar petuah dan pemikirannya.

“Sadis cerdas” gumamku dalam hati mengiyakan apa yang Ia katakan.

“Suatu hari nanti, Nadhira akan lihat nama Fahrul di koran nasional yang menuliskan tentang Aceh, Insya Allah. di tunggu loh” katanya tersenyum

“Tapi,,,,, Rul ngak bisa Dira”

“Man jadda wa jadda kan Rul?” Ia tersenyum lagi

            Aku membalas senyumnya lalu mencoba bertekad. apapun yang terjadi, Aku harus menjadi seorang penulis. Aku sangat bangga kepada Nadhira di tengah- tengah orang-orang tidak memepedulikan sejarah tapi dia dengan semangatnya dia mencoba menulis sejarah-sejarah yang terkubur seiring dengan berjalannya waktu.

“Semoga kedepan lahir lebih banyak lagi orang – orang yang mau menulis dan menelusuri sejarah seperti Nadhira, Amien” ucapku akhirnya.

“hehehe,,, biasa aja Rul, apalah Nadhira ni, masih banyak kok yang lebih di luar sana, cobalah lihat dunia luar nanti. Kamu akan tau betapa kita ini kecil dan tidak ada apa-apanya, janganlah sombong”

            Aku tersenyum, gadis itu ahhh… gadis penulis sejarah meski yang di tulis hanya sejarah dalam hidupnya, dia adalah penulis bagiku.

*penulis adalah mahasiswa IAIN Ar-Raniry jurusan Tarbiyah Biologi.

Mungkin Anda Menyukai