Taho Niha : Sentuh Aku!

Oleh: Maulidar Yusuf A Hamid

 

“Biasanya akan ada tempat penerbangan ke Pulau Nias setiap harinya” ungkap penumpang ke Gunung Sitoli, Nias kepadaku di waiting room Bandara Internasional Polonia, Medan. Sama sepertiku, perempuan paruh baya ini imagesjuga akan menuju Pulau Nias. Black Mirage menunjukkan pukul 06.05 wib, artinya akan ada waktu lebih kurang satu jam aku akan menginjakkan kaki di Pulau Nias.

Kedatangan aku ke Pulau Nias kali ini dalam rangka mengikuti pelatihan disaster dan ini adalah yang pertama kalinya aku mengunjakkan kaki di Pulau ini. Akan tetapi bukan ini pertama kalinya aku berkenalan dengan Nias. Masih terbayang diingatan, kira-kira  tahun 1998, symbol Nias berupa atraksi lompat batu sempat mucul di tag-line sebuah telivisi swasta dan menjadi ilustrasi di uang kertas. Selanjutnya, selama mengaji di dayah, guru ku pernah men-surah kitab kuning dengan bahasan najih mughalazah yang fenomenanya banyak terdapat di Pulau Nias,

Lalu, di tahun 2005 setelah bencana gempa dan tsunami, nama Nias sering dikaitkan dengan Aceh dalam hal rehab-rekon, kira-kira seperti ini “BRR Aceh-Nias”. Tidak hanya itu, selama mengikuti dinamika kasus perempuan, ada cerita menarik mengenai mahar puluhan babi untuk perempuan di Nias yang selanjutnya menuntut perempuan berkerja sangat amat keras untuk keluarga bahkan untuk melunasi utang pernikahan.

XXX

“Kopernya boleh diambil langsung”, seru salah satu penumpang dari pintu turun Wings Air kepada temannya. Sepertinya baru kali ini ada pesawat seperti bus, penumpat dapat mengambil koper di bagasi sendiri. Tepat pukul 07.53 kaki menginjak Bandara Gunung Sitoli, Pulau Nias. Tercium udara sejuk, nuansa pulau beroksingen penuh. Dua minatur rumah adat menyambut kedatangan ku dan penumpang pesawat yang menurutku kecil ini.

Berdasarkan keterangan Fransedes Simamora, salah satu relawan dan fasilitator disaster training di Holi’Ana’A, “belakangan ini, cuaca di Nias tidak bisa tebak. Kadang dalam satu jam bisa hujan, lalu tiba-tiba terik matahari, tapi hujannya lebih sering”. Rasanya tidak perlu heran, pemanasan global saat ini membuat cuaca jadi tak bisa di tebak. Wajah Nias saat ini juga menggambarkan tingkat curah hujan yang tinggi. Hal ini terbukti dengan adanya kesempatan lumut menaiki pohon kelapa dan atap rumah penduduk.

Tiba di Nias, menuntut semua referensi tersebut untuk ditelaah lebih lanjut akan keasliannya. Di Nias, rata-rata rumah penduduk tak jauh beda, bahkan antara si miskin dan si kaya sepertinya tak terlalu mencolok. Seperti di kawasan Gunung Sitoli di sepanjang jalan kita bisa melihat rumah pendukduk yang masih beratap daun rumbia berdinding kayu dan sesekali ada yang beratap seng. Kontruksinya tak jauh berbeda disetiap rumah, kecuali jika kita menuju ke Nias Selatan. Di Nias Selatan masih ada beberapa warga yang menjaga keaslian rumah adat Nias. Apa lagi jika kita berada di Teluk Dalam.

Teluk Dalam Nias, memang memiliki kisah tersendiri, dan batu loncat ada di daerah ini. Batu loncat adalah alat untuk mengukur legalitas laki-laki untuk berperang dan membina rumah tangga, namun ini ternyata hanya terjadi zaman dulu dan sekarang tidak diindahkan lagi. Jika tiba di Desa Bawomataluo, kecamatan Fanayama Teluk Dalam, lalu dengan menaiki 95 anak tangga yang dikawal oleh patung naga bertaring babi dan bertanduk rusa kita akan menemukan perkampungan penduduk yang menetap di rumah adat. Disana juga terdapat rumah bangsawan tertinggi (ba I o Zi’ulu). Di dalam rumah bangsawan ini tergantung 400 lebih rahang babi, konon katanya dalam pembangunan rumah bangsawan tersebut, setiap hari raja menyuruh mengadakan pesta makan babi untuk pekerja dan penduduk yang berjumlah lebih dari 1040 jiwa dan penduduk desa tetangga.

Kontruksi rumah adat ini sangat kokoh, dengan memasang kayu berdiameter lebih kurang  20 cm – 200 cm dan menyilang. “Kontruksi kayunya sepertinya menggunakan teori keselamatan bencana, segi tiga kehidupan” kata Lorenzo Ozagma, fasilitator training disaster HEKSS. Rumah adat dimana saja, selalu menyimpan sejarah, budaya, tradisi bahkan peradaban sebuah daerah. Wajar saja, Nias sangat rawan gempa sehingga jauh sebelum NGO datang ke Nias setelah gempa 2005 pasti nenek moyang Nias sudah memikirkan bangunan tahan gempa untuk anak cucunya. Meskipun saat ini sangat jarang ditemukan pembangunan rumah adat di Nias..

Satu lagi keunikan perkampungan ini, yaitu dengan banyaknya pedang cilik yang berjualan pernak-pernih dengan metode penjualan setengah memaksa, cerdas tapi tak menarik. Bayangkan saja, dalam waktu sepuluh detik, jika kita meladeni seorang anak yang berjualan maka akan datang satu, dua, bahkan lebih sepuluh anak untuk menawarkan dagangannya. Sehingga, waktu pun akan terbuang dengan ucapan “maaf dek, maaf dek, dek dek dek maaf”. Selanjutnya juga jangan heran dengan masyarakat yang menjemur pakaian di atas tanah, di atas jalan, di atas batu, fenomena ini memang terjadi di seluruh Pulau Nias, seperti Nias Barat, Nias, dan Nias Utara.

Meskipun memiliki kesamaan menjemur pakaian, ada yang berbeda di Nias Utara. Seperti kunjungan kami ke Lauru Fadoro, Lahewa, Onomalu Tumula, disana banyak masyarakat yang berwajah cina, memiliki aksen bicara melayu dan disana sangat jarang ditemukan rumah adat. Nias Utara berbatasan dengan Pulau Simeulu Aceh, sehingga tidak heran banyak muslim disana dan keluarga keturunan Aceh. Bahkan ketika tsunami, kabarnya ada korban dari Aceh yang terdampar di pantai Nias Utara. Pantai Nias Utara pun sampai sekarang menjadi saksi bisu gempa Nias 2005 dengan tonjolan karang berdiameter 2-8 meter dan 100 meter permukaan darat baru.

xxx

“Aku ingin jadi Bupati Nias Utara” ungkap Albert, bocah berusia 8 tahun saat berjalan diatas jalan desa berbatu gunung tanpa alas kaki menemaniku berkeliling Desa Ononamu Tula, kecamatan Afulu. “Alasannya?” tanyaku. “ Aku ingin menebang semua pohon di desa ini supaya kami bisa hidup terang” jawabnya antusias.

Menjelang seminggu terakhir di Nias, kami menuju desa Ononamu Tula. Seperti tergambar dalam impian Albert, desa ini memang gelap, khususnya pada malam hari. Sampai tahun 2013 ini, belum ada listrik yang masuk ke desa ini. Kendaraan pun susah menuju ke perkampungan penduduk yang banyak menghasilkan getah karet ini. Namun, meskipun tanpa listrik dan sinyal alat komunikasi, desa ini memiliki sekolah dasar yang muridnya sangat fasih menyanyikan lagu Indonesia raya dan memiliki mimpi besar untuk membangun daerahnya.

Tano Niha atau Tanah Nias pada dasarnya memiliki potensi yang sangat besar, seperti diungkapkan Heppy, aktivias perempuan Nias. “Nias memiliki potensi namun masih butuh sentuhan tangan berbagai pihak”. Selain tempat bersejarah, hasil alam dari perkebunan karet, kopra, cokelat, kelapa juga sangat menjanjikan di Nias.

Mungkin Anda Menyukai