Tanggung Jawab Di Bahu “Penikmat” Buku

Dahulu kita menyebut Biologi sebagai ilmu hayat. Pengetahuan sains yang berfokus pada fenomena makhluk hidup. Lingkupnya dari jasad renik hingga manusia. Dalam bahasa awam kita menyebutnya kuman hingga kajian mengenai manusia. Ketertarikan terhadap ilmu Biologi di Perguruan Tinggi sebanding dengan persepsi siswa sekolah menengah bahwa ilmu ini banyak mengkaji hal yang berhubungan dengan keseharian manusia, namun tidak sedikit siswa yang menganggap bahwa ilmu Biologi rumit dengan segala istilah-istilah yang harus dihafal serta ragam tuntunan keterampilan pendukung di laboratorium. Banyak menuntut bekerja dengan teliti, terstruktur dan sesuai dengan prosedur.

Ketertarikan individu dalam belajar ilmu Biologi tidak terlepas dari peran media cetak dan online yang kemudian mengalami perluasan makna dari makna sebelumnya yaitu buku. Tersedianya buku baik cetak maupun online sangat memudahkan siswa/mahasiswa menyerap informasi mengingat pengajar bukanlah satu-satunya sumber belajar.

Individu berhak aktif menentukan media dan metode belajarnya. Hal ini membuka peluang besar kepada penulis untuk berfikir mendokumentasikan kerjanya dalam bentuk buku. Upaya dakwah dengan mengembangkan ilmu yang dimiliki dalam ramuan kekinian yang mudah dipahami sesuai dengan jamannya.

Harapan lahirnya banyak saintis dari ilmu ini dibentuk dengan pertimbangan adanya buku-buku Biologi berkualitas. Saintis yang memiliki pemahaman, keterampilan sains dan karakter yang kuat dalam menyelesaikan permasalahan ilmu pengetahuan yang dinamis. Mengingat adanya permasalahan yang majemuk maka terlahirlah cabang ilmu. Tugas diemban oleh ‘penikmat’ buku Biologi. Pemikiran cerdas, bijaksana dan berkepribadian luhur menjadi output saintis muda Biologi di masa depan.

Buku kekinian yang diharapkan sebagai salah satu media belajar siswa/mahasiswa juga memiliki peranan dalam membentuk pemahaman, karakter dan keterampilan sains pembacanya.

Meskipun ironi jika nantinya seorang ilmuwan Biologi dihadapkan pada realita bahwa profesional biologi terapan seperti seoraang Dokter, ahli pertanian, dan sebagainya lebih memperoleh tempat secara material yang lebih baik. Namun yang penting diingat adalah kepuasan setelah berhasil membuktikan kebenaran ilmiah yang menjadi kajiannya memiliki nilai objektif yang lebih tinggi.

Belajar dari filosofi membaca buku; seseorang harus menyediakan waktu dan pemikiran untuk menyelesaikan bacaannya, bersabar dan mampu sebanyak-banyaknya menyerap informasi dari bahan bacaannya. Sampai di suatu titik seorang pembaca tergugah juga menjadi seorang penulis. Bergerak dari kebiasaan mengumpulkan informasi, eksperimen, membahas dan mengkaji literasi kemudian menuangkan alur ketertarikan kajian dalam tulisan baru yang orisinil. Bertahap kebiasaan menuangkan ide serta konsistensi dalam mengembangkan ilmu dengan mengangkat potensi sumber daya alam hayati lokal maupun nasional juga membantu pemerintah daerah dalam mengeksplor sumber daya demi kesejahteraan masyarakat.

Sebagai contoh kajian Mikologi (ilmu jamur) dengan menerapkan Postulat Koch; pada upaya mengembangkan atmosfir penelitian pada objek biologi yaitu tumbuhan. Langkah pertama, mengamati kelainan jaringan setelah dipotong melintang; kedua, mengisolasi/memindahkan sel yang mengalami kelainan tadi untuk diambil mikroorganismenya pada media laboratorium, ketigadengan hasil isolasi mikroorganismenya ditumbuhkan kembali kepada tumbuhan yang sehat lalu mengamati apakah terjadi kelainan pertumbuhan dengan ciri-ciri serupa diawal. Penting untuk kemudian menyelipkan pembahasan dengan kalimat filosofi makhluk hidup. Kemampuan ini hanya dapat dilakukan jika seseorang memiliki banyak bahan bacaan, berulang-ulang bereksperimen dan menuangkan dalam tulisan sehingga menjadi karya yang dapat dinikmati oleh pecinta ilmu lainnya.

Alangkah bijaknya jika apa yang biasa dibaca dapat memberikan alternatif ide-ide yang kemudian diwujudkan dalam inovasi eksperimen dan dikemas dalam tulisan apik. Mengutip kata pepatah “Hidup yang berguna adalah hidup yang ketika petang akan menjelang, telah tersedia kayu bakar untuk menghadapi malam yang akan datang”.

Penulis Diannita Harahap, M. Si
Staf Pengajar Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Ar-RaniryAr-Raniry

Email: diannitaharahap@yahoo.com

Mungkin Anda Menyukai