Tembok ‘Berlin’ UIN-Unsyiah dan Sejarah Darussalam

Sumberpost.com | Banda Aceh- Beberapa waktu lalu beredar informasi dan foto pembangunan tapal batas di sebelah Timur, atau jalan menuju Pascasarjana UIN Ar-Raniry. Tapal batas ini dibangun oleh pihak kampus Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Sebelum Rektor UIN Ar-Raniry Profesor Farid Wajdi, persoalan ini juga sudah terjadi, namun belum terasa. Setidaknya tapal batas kembali muncul untuk yang ketiga kalinya.

Pihak Unsyiah memblokade jalan dan mengklaim sebagai milik mereka. Kedua kalinya berhasil dihalangi oleh UIN Ar-Raniry dan ditunda pembangunannya. Namun polemik hak milik masih tidak kunjung terselesaikan, hingga pembangunan tembok kembali dilakukan beberapa waktu lalu.

Tapal batas UIN-Unsyiah, kini layaknya tembok Berlin (Jerman) yang dibangun oleh Republik Demokratik Jerman (Jerman Timur) yang dijadikan pembatas untuk memisahkan Berlin Barat dan Berlin Timur serta daerah lainnya.

Akankah UIN-Unsyiah berakhir dengan tembok seperti ini?

Wakil Rektor I UIN Ar-Raniry, Gunawan, saat konferensi pers di Biro Rektorat kampus tersebut mengatakan, jalan umum yang dibangun tembok terkesan terburu-buru.

“Jalan umum dibangun tembok dan terkesan tidak sabar. Masyarakat bisa mengerti dan paham terkait hal ini. Ini kasus kemanusiaan. Kopelma adalah warisan pendahulu kepada rakyat Aceh,” katanya, Selasa (11/8/2020).

Menurutnya, pihak Unsyiah merasa Kopelma di wariskan untuk Unsyiah saja.

“Unsyiah merasa Kopelma diwariskan untuk dia saja. Sudah pernah melakukan pertemuan, namun tidak ada penyelesaian,” katanya.

Gunawan menambahkan, pihaknya tidak mengklaim paling benar, hanya saja bagi orang-orang yang berpendidikan, harusnya dapat menerapkan pola yang baik.

“Kami tidak mengklaim paling benar. Namun kami ingin menyampaikan, bahwa sesuatu yang dikerjakan oleh orang yang berpendidikan seharusnya dapat lebih baik agar menjadi contoh untuk masyarakat,” ujarnya.

Gunawan juga menambahkan, bahwa Kopelma merupakan sumbangan masyarakat Aceh yang diberikan untuk tiga kampus.

“Perlu kami jelaskan, bahwa Kopelma merupakan sumbangan masyarakat Aceh yang diberikan untuk tiga kampus untuk mendidik generasi Aceh,” katanya.

Reaksi Netizen
Lalu, milik siapakah Kopelma Darussalam?

Berangkat dari problematika yang terjadi, muncul berbagai argumen di kalangan masyarakat dan juga mahasiswa. Seperti komentar dari beberapa netizen di Questions Box Instagram Story milik Sumberpost, Selasa (11/8/2020).

“Dihibahkan kepada 3 Perguruan Tinggi. Tanah hibah bukan milik perseorangan,” tulis akun @saraulvani.

Beberapa di antaranya menanggapi dengan celetukan-celetukan berbeda. Seperti akun @ichram.asyafy, ia menanggapi pertanyaan Kopelma milik siapa, dengan jawaban “Unsyiah, tapi boong :v,”.

Akun lainnya menulis “Milik kakek Rektor Unsyiah,” sebut akun @azmi_jafar.

Ada juga yang menyebutkan bahwa Kopelma Darussalam adalah milik rakyat Aceh. “Milik rakyat Aceh yang menjunjung pendidikan,” tulis akun @khafakhalidar12.

Beberapa akun lainnya menyebutkan bahwa Kopelma Darussalam milik bersama, ada juga yang menyebutkan milik mahasiswa.

(Bersambung…)

Baca juga:

Penulis: Cut Salma H.A
Foto : dok/ist