Sosok Dilla Salsabila terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026. (dok/Ist)

Gerak Dulu, Jalan Terbuka: Cerita Dilla hingga Terpilih Sebagai Google Student Ambassador 2026

Sumberpost.com | Banda Aceh – Di kafe di sore hari, Dilla duduk dengan wajah yang cerah, mengenakan baju berwarna coklat dipadukan jilbab coklat kream yang lembut. Di tangannya, ada sebuah cangkir teh hijau hangat yang menemani obrolan santai kami.

Dilla Salsabila, mahasiswi Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) UIN Ar-Raniry angkatan 2024, kini dikenal sebagai salah satu mahasiswi berprestasi di kampusnya. Ia juga resmi terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Di balik capaian itu, ada proses panjang yang tidak sederhana. Sejak SMK, ia telah menapaki berbagai pengalaman, mulai dari multimedia, mentoring, freelancing, magang, hingga aktif di dunia organisasi.

Perempuan asal Desa Menasah Papen, Aceh Besar ini memulai langkahnya di bangku SMK dengan memilih jurusan Multimedia dan mendalami Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Latar belakang itu kemudian mengarahkannya pada pilihan kuliah di PTI UIN Ar-Raniry, bukan Teknik Informatika.

“Saya ingin tidak hanya bisa teknik, tapi juga bisa membagi ilmu ke orang lain,” katanya.

Pengalaman menjadi mentor adik adik dan teman nya di SMK semakin memperkuat alasan itu.

” Saya Senang kalau orang bisa ngerti apa yang saya ajarkan. Itu jadi suatu apresiasi dan kebanggaan tersendiri buat saya.”

Langkah Dilla tidak berhenti di bangku mahasiswa. Di semester dua, ia mulai mengembangkan Nextsora, sebuah digital ekosistem yang cukup dikenal di kalangan Minecraft. Seperti aset Minecraft (skin, hosting), pembuatan website,jualan aset desain grafis, dan mentoring kepada pengguna lain.

Nextsora bukan sekadar proyek kreatif, tapi pembuktian bahwa ia tidak hanya jago teknik tapi bisa mengembangkan ruang belajar.

Dilla sudah lama tertarik pada ekosistem google bahkan nextsora itu terbentuk karna belajar dari ekosistem google.

“Saya suka Ekosistem Google itu karna sederhana,semua orang bisa pakai. Kalau pertama buka Google, keluar fitur research nah kita bisa eksplorasi apa saja dari situ,”jelasnya.

Ketertarikan itu kemudian mengantarnya ke pendaftaran Google Student Ambassador 2026. Ada sekitar 81.000 pendaftar dari seluruh Indonesia, hanya sekitar 1.900 yang diterima. Dilla mengaku sempat tidak percaya diri, karena la bergerak di bidang multimedia dan kreatif, meski latar belak dari SMK nya teknologi.

“Awalnya saya kurang yakin, karena saya kan bergerak di bidang kreatif, Tapi saya tetap kirim portofolio dan hasil yang pernah saya buat. Ketika tahu lulus, saya kaget,”

Sebagai Google Student Ambassador, Dilla dan timnya telah merancang sejumlah program. Namun program itu belum bisa diungkapkan “programnya belum bisa kita spill dulu, karena ada timelinenya dan akan bertahap,” ujarnya

Selain kuliah Dilla juga aktif di berbagai kegiatan. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Bidang Divisi Media dan Informasi selama tiga periode, bergabung dalam organisasi Suara dan ia juga aktif di Ikatan Mahasiswa Muslim Perempuan Indonesia (IMMI) UIN Ar‑Raniry sejak awal masa perkuliahan.

Selain itu, Dilla juga aktif sebagai freelancer desain, menerima pekerjaan branding, logo, dan desain lainnya. Di sela‑sisinya, ia juga menyempatkan latihan sebagai atlet tenis lapangan di PSTC Junior.

“Saya emang gak suka belajar di satu hal saja. Kalau saya bosen, saya akan belajar hal ,” katanya.

Di tengah kesibukannya, Dilla tetap punya pesan sederhana tapi kuat untuk mahasiswa muda:

“Untuk even apapun yang mau kalian ikutin, jangan lihat ke orang lain. Mau lulus tau enggak, mau kalah atau menang, itu urusan nanti, kalah dan menang itu bonus. Yang penting itu prosesnya.”

Ia menekankan, proses belajar, introspeksi, dan evaluasi setelah ikut lomba itu jauh lebih penting daripada hanya mengejar label “lulus” atau “menang”.

“Orang lain nggak peduli dengan proses kita. Mau kita jatuh, mau kita nangis, orang cuma lihat sebentar, lalu lupa. Jadi, jangan malu untuk mencoba, gerak aja dulu,” katanya menutup perbincangan.

Kembali ke kursi kafe itu, Dilla kembali menyesap teh hijaunya pelan‑pelan. Dari luar, ia tampak hanya seperti mahasiswi biasa yang sedang istirahat sejenak. Namun di baliknya, ia adalah sosok yang terus bergerak, belajar, dan membagi ilmu. []

Reporter : Anda Fathin Nadin

Editor : Nurul Azkia