Menapaki Dunia Digital: Perjalanan Dilla Salsabila Jadi Google Student Ambassador 2026

Sumberpost.com | Banda Aceh – Sore itu, di sebuah cafe seorang mahasiswi duduk dengan wajah yang cerah, mengenakan baju berwarna coklat dipadukan jilbab cokelat cream yang lembut. Di tangannya, ada sebuah cangkir teh hijau hangat yang menemani obrolan santainya.

Namanya Dilla Salsabila, mahasiswi Pendidikan TeknoIogi Informasi (PTI) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry angkatan 2024, kini dikenal sebagai salah satu mahasiswi berprestasi di kampusnya. Ia juga resmi terpilih sebagai Google Student Ambassador (GSA) 2026.

Mahasiswi asal Desa Meunasah Papeun, Aceh Besar ini, memulai langkahnya di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan memilih jurusan Multimedia dan mendalami Rekayasa Perangkat Lunak (RPL). Latar belakang itu kemudian mengantarkannya pada pilihan kuliah di PTI UIN Ar-Raniry.

Di balik capaian itu, ada proses panjang yang tidak sederhana. Ia telah menapaki berbagai pengalaman, mulai dari bidang multimedia sejak 2021 sampai sekarang, mentoring seputar self-development, akademik dan tools multimedia, freelancer sebagai Desainer Grafis dan Mentor Private, magang di Dinas Kebudayaan Pariwisata Aceh (Disbudpar) di divisi Destinasi selama 6 bulan, hingga aktif di dunia organisasi.

Dilla mengatakan bahwa ia tidak hanya ingin belajar teknik, tetapi juga ingin membantu orang lain memahami proses dan tips bagaimana suatu hal dapat terjadi. Ia memilih Program Studi (Prodi) PTI agar ilmunya semakin berkembang dan bisa dibagikan kepada khalayak, sekaligus tetap terintegrasi dengan dunia teknologi yang telah lama ia minati.

“Dilla tidak hanya ingin belajar teknik, tetapi juga ingin membuat orang lain memahami proses dan tips bagaimana suatu hal bisa terjadi. Dilla memilih masuk Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi agar ilmunya semakin berkembang dan dapat dibagikan kepada khalayak, sambil tetap terintegrasi dengan dunia teknologi yang sejak dulu dilla sukai,” ujarnya.

Dilla menambahkan bahwa ia sangat senang ketika dipertemukan dengan orang-orang yang haus ilmu dan merasa bangga saat orang lain dapat memahami apa yang ia ajarkan. Ia juga menekankan bahwa saat ini dibutuhkan cara yang benar-benar efisien dalam berbagi pengetahuan, bukan sekadar menuangkan ilmu, tetapi bagaimana ilmu tersebut dapat benar-benar membantu orang lain.

“Dilla senang sekali kalau dipertemukan sama orang yang haus ilmu, dan bangga ketika orang lain bisa mengerti dari apa yang Dilla ajarkan, karena saat ini butuh cara yang benar-benar efisien, bukan sekedar tuang ilmu tapi bagaimana ilmu itu bisa membantu orang lain,” tambahnya.

Selama menjadi mahasiswa langkah Dilla tidak berhenti di situ saja. saat semester dua, ia mulai mengembangkan Nexora, sebuah ekosistem digital yang cukup terkenal di kalangan Minecraft. Seperti aset Minecraft (skin, hosting), pembuatan website, jualan aset desain grafis, dan menjadi mentor kepada pengguna lain.

Nexora bukan sekadar proyek kreatif, tapi pembuktian bahwa ia tidak hanya jago teknik tapi bisa mengembangkan ruang belajar. Ia sudah lama tertarik pada ekosistem google bahkan Nexora itu terbentuk karna belajar dari ekosistem google.

“Dilla suka bgt sama ekosistem google karena google itu ngebangun ekosistem yang saling terhubung dan kolaboratif ditambah user friendly jadi semua kalangan bisa gunain. Contohnya kayak ibu ibu aja tau kalau klik google pasti bakal ke tools search dulu karena tujuan google itu dan bener bener direalisasikan dengan baik oleh google, gmail docs sheet smuanya terbubung. jadi geraknya bukan sekedar keren tapi emang sebermanfaat itu buat semua kalangan, ” ungkapnya

Ketertarikan itu kemudian mengantarnya ke pendaftaran GSA 2026. Ada sekitar 81.000 pendaftar dari seluruh Indonesia, hanya sekitar 1.900 yang diterima. Ia mengaku sempat tidak percaya diri, karena la bergerak di bidang multimedia dan kreatif, meski latar belak dari SMK Teknologi.

“Awalnya saya kurang yakin, karena saya kan bergerak di bidang kreatif, Tapi saya tetap kirim portofolio dan hasil yang pernah saya buat. Ketika tahu lulus, saya kaget,” tuturnya.

Sebagai GSA, Dilla telah merancang sejumlah program. Namun nama program itu belum bisa diungkapkan.

“Nama programnya belum bisa Dilla spill dulu nanti bakal gak seru, intinya seputar dunia digital khususnya Artificial Intelligence (AI) dan Google, Stay tune aja karena pasti Dilla bakal buat event, bertahap dan semua mahasiswa bisa ikutan,” ceritanya.

Selain berkuliah Dilla juga aktif di berbagai kegiatan. Dila menjabat di Ikatan Mahasiswa Muslimpreneur Indonesia (IMMI) sebagai Kepala Divisi (Kadiv) Media dan Informasi selama 3 periode ini. Ia mengikuti organisasi tersebut sejak awal pekuliahan. Selain itu ada organisasi The Leader, dengan tagline #EveryoneCanBeALeader. Ini organisasi yang paling banyak insight dan titik awal yang mendorong dilla buat menunjukkan sisi sebagai leader. Dan ia juga sempat bergabung di organisasi svara meskipun sekarang sudah tidak bergabung lagi, disana ia sempat belajar banyak hal yang paling utamanya itu tentang keberanian buat speak up bahwa semuanya orang bisa angkat suara dan tidak ada suara yang kecil.

Dilla mengatakan bahwa ia menyukai belajar hal-hal baru karena setiap hal baru menghadirkan tantangan yang ia nikmati. Ia menilai bahwa setiap keberhasilan merupakan pencapaian tersendiri, dan ia juga senang membagikan pengalaman tersebut kepada orang lain.

“Dilla emang suka belajar hal hal lain karena setiap hal baru pasti membuka tantangan buat Dilla, dan Dilla suka rasa tantangan itu. jadi ketika berhasil itu jadi poin yang berhasil di cetak dan suka sharing sharing setelahnya hehe,” ucapnya sambil tertawa kecil.

Dilla menyampaikan pesan kepada mahasiswa agar berani menghadapi berbagai peluang yang ada dengan perhitungan dan ritme yang tepat. Ia menekankan bahwa proses yang dijalani akan terasa seru, sementara hasil seperti menang atau kalah, lulus atau tidak, hanyalah bonus. Menurutnya, kegagalan sebaiknya dijadikan bahan evaluasi untuk langkah selanjutnya, sedangkan keberhasilan dapat menjadi ilmu yang dibagikan kepada orang lain.

“Untuk semua hal yang ada di sekitar kita saat ini, terjang aja, hantam semuanya dengan pengukuran dan ritme yang pas. Prosesnya bakal seru, menang atau kalah, lulus atau tidak itu bonus. Kalau kalah jadiin bahan evaluasi untuk next step, kalau menang jadi ilmu yang bisa di share,” pungkasnya.

Kembali ke kursi kafe itu, Dilla kembali menyesap teh hijaunya pelan‑pelan. Dari luar, ia tampak hanya seperti mahasiswi biasa yang sedang istirahat sejenak. Namun di baliknya, ia adalah sosok yang terus bergerak, belajar, dan membagi ilmu. []

Reporter : Anda Fathin Nadin

Editor : Miftahul Jannah