Kisah Fatayatul Hanani Safrul yang mengirim video Esai "The Dance-off Democracy" ke Ranah Internasional. (dok/Nora Hasrita)

Melawan Ragu, Menjemput Peluang: Kisah Aya dan “The Dance-off Democracy”

Sumberpost.com | Banda Aceh – Fatayatul Hanani Safrul, mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) semester enam Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, baru saja menyelesaikan program kuliah internasional iDegree Open Class Program – Fall Semester 2025 di Woosong University, Korea Selatan yang diikuti secara daring selama satu semester.

Usai program tersebut, mahasiswi yang akrab disapa Aya ini mendapat saran dari Prof. Saiful Akmal untuk mengikuti kompetisi video esai tingkat internasional bersama beberapa rekannya.

Saran tersebut disambutnya dengan merancang sebuah karya berjudul “The Dance-off Democracy”. Bagi Aya, mencoba peluang di tingkat internasional merupakan suatu keharusan ketika kesempatan itu ada.

“Saya tidak takut, karena why harus takut kalau mau ikut lomba,” ujarnya.

Dalam proses penulisannya, Aya melakukan riset karena topik yang diangkat berkaitan dengan isu politik. Pilihan tema ini berangkat dari pengamatannya terhadap dinamika politik yang sedang berlangsung.

“Alasan saya mengambil topik tersebut karena saya merasa the psychology of politic sangat relate dengan keadaan demokrasi Indonesia saat Pemilu 2024,” jelasnya.

Ketertarikan itu semakin terbangun setelah ia mengikuti perkuliahan dari pakar politik, Leonie Huddy. Proses penyusunan naskah esai ini sebenarnya tidak dibatasi tenggat waktu yang ketat. Namun, memikirkan konsep video sempat membuatnya khawatir.

“Saya menulis esainya di waktu luang pada saat bulan puasa. Akan tetapi, saya merasa kesulitan memilih konsep video yang pas karena ada begitu banyak ide yang ingin saya gunakan, sementara keahlian saya dalam mengedit video masih terbatas,” ungkapnya.

Karena kompetisi ini melibatkan peserta dari berbagai negara, Aya mengakui sempat merasakan ketegangan. Ia menyadari bahwa persaingan cukup ketat.

“Saat bersaing dengan mahasiswa dari kampus lain menegangkan, karena saya yakin banyak peserta lainnya yang hebat dan juga kreatif,” tuturnya.

Namun, perasaan tersebut berubah saat proses pendaftaran selesai.

“Saat sudah klik tombol submit betul-betul lega, rasanya satu beban sudah terangkat dari bahu. It’s like… war is over,” ceritanya.

Kini, Aya menanti hasil kompetisi tersebut dengan melihat nilai dari proses yang telah ia jalani, bukan semata pada hasil akhir.

“Mungkin excited ya, excited untuk lihat hasilnya. Tapi walau mungkin tidak menang, the point is I already tried,” pungkasnya.

Melalui pengalamannya, Aya membagikan pesan bagi siapa saja yang sedang menghadapi peluang baru.

“Maybe don’t overthink it, karena kalau kita malu atau takut untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang bisa membuat kita lebih maju, then we’re just gonna be stuck at where we are,” pesannya. []

Reporter : Nora Hasrita

Editor : Nurul Azkia