Saat Massa Menuntut Keadilan, Saiful Mencari Rezeki di Tengah Kericuhan
Sumberpost.com | Banda Aceh — Di tengah kericuhan para peserta aksi yang disertai dengan cuaca berawan sehingga membuat suasana terasa lebih sejuk, asap hitam sudah mengudara pertanda demo telah dimulai. Teriakan dan sorakan menggema di seluruh penjuru halaman Gedung Gubernur Aceh saat aksi demonstrasi penolakan Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) berlangsung, Senin (11/05/2026).
Di tengah huru-hara aksi demonstrasi tersebut, ada sesosok lelaki paruh baya yang sudah siap siaga dengan sekeranjang botol air mineral yang akan dijual, kepada para demonstran sebagai penghilang dahaga di tengah membaranya aksi unjuk rasa itu. Sebut saja Saiful Bahri, pedagang asongan yang berjalan menyusuri keramaian massa aksi dengan langkah kecil dan perlahan sambil sesekali memperhatikan situasi di sekitarnya. Di tengah panasnya suasana demonstrasi, kehadiran Saiful seolah menjadi pelengkap yang jarang disadari namun bermakna untuk memberi jeda bagi mereka yang mulai kehausan.
Bagi Saiful, demonstrasi bukan hanya tentang penyampaian tuntutan yang dilontarkan oleh peserta aksi yang memenuhi halaman gedung putih itu, namun juga kesempatan untuk mencari sedikit pundi-pundi rupiah yang bisa diperoleh dari peristiwa tersebut. Sejak beberapa jam sebelum demo dimulai, ia sudah berada di lokasi sambil mempersiapkan dan merapikan dagangannya di dalam sebuah keranjang biru.
Sesekali para peserta aksi menghampirinya untuk membeli air mineral sekadar melepas dahaga setelah bergantian menyampaikan tuntutan melalui pengeras suara. Ia mengaku dagangannya laris dan memperoleh keuntungan yang sedikit membuat hatinya gembira. Banyaknya massa yang hadir membuat botol air mineral yang dibawanya cepat habis terjual.
“Awal saya jualan penuh keranjangnya dan sekarang sudah sisa beberapa botol lagi. Mudah-mudahan bisa laku lagi walaupun enggak banyak, tapi setidaknya cukuplah untuk hari ini. ketika dapat info ada demo hari ini saya langsung siap-siap kemari, mana tahu ada sedikit rezeki di sini,” ujarnya sambil sesekali tersenyum.
Namun siapa sangka, pedagang asongan ini mendapat desil 8 dari hasil peringkat Kesejahteraan Keluarga. Sebagaimana diketahui, masyarakat yang tergolong dalam desil 8 dianggap mampu dan tidak lagi mendapatkan JKA. Hal tersebut pun dirasakan langsung oleh Saiful sebagai masyarakat yang masuk dalam kategori itu.
Awalnya ia sempat bingung dan khawatir jika suatu saat ada anggota keluarganya yang sakit dan tidak lagi mendapatkan biaya kesehatan gratis tersebut. Meskipun begitu, Saiful tetap memilih terus berjualan di tengah massa aksi yang semakin memanas sambil membawa harapan agar polemik yang terjadi saat ini segera mendapat kejelasan.
“Saya dapat desil 8, sama semua dibuat desilnya. Kami-kami yang jualan pinggir jalan ini sempat bingung karena dapat desil 8. Tapi mau bagimana lagi, tetap jualan dan cari rezeki walaupun enggak seberapa dapatnya sehari-hari, yang penting cukup untuk makan aja,” pungkasnya. []
Reporter: Aura Sura Aini
Editor: Miftahul Jannah
