M. Rizwan mahasiswa aktif UIN Ar-Raniry yang telah berhasil mengeluarkan 3 buku. (dok/Sukmanil Haq SP)

Menulis sebagai Jejak Kehidupan: Awal Perjalanan Rizwan Hingga Buku Karya Ketiganya

Sumberpost.com | Banda Aceh – Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa dan berbagai tuntutan kehidupan, M. Rizwan hadir sebagai sosok inspiratif yang memilih menulis sebagai jalan perjuangannya. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk meninggalkan jejak kehidupan yang bermakna.

Rizwan resmi meluncurkan buku ketiganya yang berjudul Manusia yang Tak Sekadar Hidup. Karya tersebut lahir dari dorongan motivasi yang kuat, salah satunya terinspirasi dari perkataan Imam Syafi’i:

“Jika kita bukan seorang ulama dan bukan ahli ilmu, maka peninggalan yang paling berharga adalah karya kita.”

Berangkat dari pemikiran tersebut, Rizwan menjadikan menulis sebagai wadah untuk mencurahkan gagasan, perasaan, sekaligus memberikan dampak bagi orang lain melalui tulisan.

Perjalanan kepenulisan Rizwan dimulai sejak masa sekolah. Buku pertamanya mengangkat tema keagamaan melalui kumpulan kultum yang ditulis saat duduk di bangku kelas 11, berjudul Kumpulan Kultum Generasi Islam Milenial. Selanjutnya, pada kelas 12, ia menerbitkan karya fiksi berupa kumpulan puisi berjudul Imajinasi untuk Negeriku.

Berbeda dari dua karya sebelumnya, buku ketiga ini lebih berfokus pada motivasi kehidupan. Rizwan ingin menghadirkan tulisan yang tidak hanya dibaca, tetapi juga mampu membangkitkan semangat pembacanya untuk terus berjuang.

“Kita sebagai manusia harus terus mencoba. Jika kita tidak pernah mencoba, kita tidak akan tahu sampai di mana kemampuan kita,” ungkapnya, mengutip salah satu isi yang ada di dalam buku hasil tulisnya.

Dalam proses penulisannya, Rizwan menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam membagi waktu. Sebagai mahasiswa yang juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, ia harus mampu menyeimbangkan antara tanggung jawab akademik, aktivitas organisasi, serta kondisi ekonomi yang tidak selalu mendukung. Ia menegaskan bahwa kunci utama untuk tetap produktif adalah manajemen waktu yang baik.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya kemampuan merangkai kata atau diksi dalam menulis. Menurutnya, kualitas sebuah karya sangat ditentukan oleh bagaimana ide disampaikan sehingga dapat dipahami dan dirasakan oleh pembaca.

Lebih dari sekadar tulisan, Rizwan ingin setiap karyanya mampu menyentuh hati. Ia percaya bahwa menulis harus memiliki tujuan yang jelas, yaitu memberikan dampak bagi masyarakat. Tanpa itu, sebuah karya akan kehilangan maknanya.

Melalui buku ketiganya, ia menyampaikan pesan kepada generasi muda agar tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan tidak takut untuk mencoba hal baru. Baginya, masa muda adalah kesempatan berharga untuk berkarya dan meninggalkan sesuatu yang berarti.

“Menulis bukan hanya tentang kata-kata, tetapi bagaimana tulisan itu bisa membuat orang bangkit dan kembali bersemangat menjalani hidup,” tuturnya.

Kisah Rizwan menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya. Justru dengan tekad dan konsistensi, setiap individu mampu menciptakan sesuatu yang bernilai dan memberikan inspirasi bagi banyak orang. []

Reporter : Sukmanil Haq

Editor : Nurul Azkia