“Be in Your Skin”, Cara Riziq Elfathir Menata Tempo di Tengah Padatnya Kesibukan
Sumberpost.com | Banda Aceh – Bagi Riziq Elfathir, waktu adalah rangkaian koordinasi yang harus bisa ia susun dengan rapi. Di usianya yang menginjak semester empat di Program Studi Psikologi UIN Ar-Raniry, hari-harinya tidak pernah benar-benar kosong. Belakangan ini, fokusnya tercurah pada proyek Global Shorts Competition 2026 bentukan Woosong University.
Atas keikutsertaannya dalam ajang bergengsi tersebut Riziq menjelaskan bahwa keterlibatan dalam tim ini merupakan buah manis dari kerja sama panjang yang telah terjalin antara UIN Ar-Raniry dan kampus asal Negeri Ginseng tersebut.
“Sebelum mengikuti program ini uin ar raniry memang sudah menjalin kerja sama dengan Woosong University, dan kami juga telah mengikuti kelas daring bersama dengan dosen dan mahasiswa dari berbagai negara dalam bentuk perkuliahan formal, dan program ini memiliki sebuah platform bernama Gerature, yang menghadirkan dosen dan akademisi terpilih untuk menyampaikan kuliah umum dengan berbagai topik” cerita Riziq.
Dalam perjalanan Riziq mengikuti ajang ini tergolong singkat namun sangat intens karena bertepatan dengan momen Lebaran. Begitu mendapat ajakan langsung dari Prof. Saiful, ia dan timnya langsung bergerak cepat meski waktu yang tersisa sangat terbatas.
“Persiapan khususnya sebenarnya tidak ada yang gimana-gimana kali, karena terpotong libur hari raya jadi saya praktis hanya dapat waktu lima hari untuk merampungkan karya,” lanjut Riziq.
Namun, keterbatasan waktu itu ia siasati dengan memilih topik yang paling dekat dengan hati dan terasa paling relevan dengan kondisi pribadinya.
Melalui video esainya, ia mengangkat konsep dari pemikiran penulis Inggris, Julian Barnes, bertajuk “Be in your skin.” Riziq mengakui bahwa video tersebut merupakan cerminan dari kegelisahannya melihat tekanan ekspektasi di dunia saat ini.
“Sebenarnya ekspektasi itu bagus, tapi seringkali kita yang terlalu berlebihan menanggapinya sampai-sampai merasa sakit karena beban itu,” ungkap Riziq jujur.
Ia percaya bahwa pembahasan terbaik dalam sebuah karya adalah ketika seseorang berani jujur membahas tentang dirinya sendiri tanpa harus selalu mengikuti kemauan orang lain agar tidak menjadi beban pikiran.
Rasa penasaran Riziq pun tidak berhenti setelah video tersebut selesai diproduksi. Ia kini justru tertarik mendalami lebih jauh literatur yang ia angkat untuk kepentingan akademisnya di masa depan.
“Saya baru tahu Barnes ini menulis buku, jadi saya ingin menuntaskan bacaannya dulu untuk melihat apakah ada bagian yang bisa dikembangkan menjadi penelitian di bidang psikologi,” jelasnya.
Mengenai teknis, ia menambahkan bahwa kompetisi ini dilaksanakan sepenuhnya secara daring demi efisiensi mengingat banyaknya peserta global yang berpartisipasi.
Menjelang pengumuman final pada pertengahan April hingga akhir Mei mendatang, Riziq tetap tenang dan tidak terbebani oleh hasil akhir. Ia memiliki filosofi yang kuat bahwa kemenangan sejati adalah keberanian untuk mencoba meski ada risiko kegagalan.
“Menang atau kalah itu bonus, yang terpenting kita punya jiwa pemenang. Masa baru sekali mencoba langsung mau menang? Pengalaman kalah itu justru yang terbaik untuk kita belajar,” tuturnya mantap.
Ia meyakini bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama sebagai sesama manusia untuk berkembang. Sebagai penutup, ia menekankan pentingnya bagi mahasiswa untuk menjalin komunikasi yang baik dengan para pendidik di lingkungan kampus.
“Jalinlah relasi dengan dosen atau profesor di kampus, karena mereka sebenarnya punya banyak info, cuma tidak tahu mau dibawa ke mana info tersebut,” tutur Riziq menekankan pentingnya jejaring.
Ia berpesan bahwa relasi dengan orang-orang yang memiliki akses informasi sangatlah krusial agar peluang berharga tidak terlewatkan begitu saja. Kisah Riziq menjadi bukti nyata bahwa keberanian menjadi diri sendiri dan kedekatan dengan lingkungan akademik adalah kunci utama dalam menjemput peluang masa depan. []
Reporter : Ayulizza
Editor : Nurul Azkia
